. Mengalahkan Gadis Part 11 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Part 11

0
106

Mengalahkan Gadis Part 11

Run The Pawn

Ramon mendekat, mengamati tiap inchi tubuh mungil wanita itu. Dia segera menelanjangi dirinya sendiri hingga hanya tinggal memakai celana dalamnya saja. Setelah itu dia membelai lembut kepala Safitri, wanita yang akan menemaninya malam ini, hingga pagi nanti. Tangannya menuju wajah wanita itu, membelai pipi dan bibir tipisnya, lalu menurunkan kepalanya menuju wajah Safitri, dan menempelkan bibirnya mengecup bibir Safitri. Dia lumat perlahan bibir itu, lidahnya menyeruak masuk dan menari-nari disana.

Tangan Ramon kemudian turun membelai dan meremas buah dada Safitri yang tak terlalu besar ukurannya, namun masih cukup kencang. Dia lalu membuka kancing bajunya satu persatu hingga terlepas semua. Dia singkapkan ke kiri dan ke kanan, memperlihatkan tubuh depan Safitri yang masih tertutup tanktop cokelat tua yang senada dengan warna celana panjangnya. Ramon kemudian meloloskan baju Safitri berikut tanktopnya. Dia beralih ke celana panjang yang dipakai Safitri. Tak perlu waktu lama bagi celana itu untuk lepas dari tubuh langsing Safitri.

Kini wanita itu hanya tinggal memakai bra dan celana dalam warna hitam. Ramon yang berada di sampingnya menyapukan pandangannya ke tubuh mungil itu. Dia tak mau membuang waktu lebih lama lagi, sehingga dengan cepat melepasi bra dan celana dalam Safitri, hingga kini keduanya sudah tak lagi memakai apa-apa.

Ramon langsung saja menciumi dan menjilati sekujur wajah Safitri tanpa perlawanan. Bibir dan lidahnya kemudian turun menyapu leher dan pundak wanita itu, kemudian turun lagi ke payudara Safitri. Kedua bukit ini memang termasuk kecil untuk Ramon jika dibandingkan dengan kepunyaan istrinya maupun kedua kakak beradik korban barunya, namun tetap saja menarik karena selain masih padat, permukaannya yang putih dengan puting mungil yang kecokelatan terlihat sangat menggoda.

Dicaploknya kedua puting Safitri bergantian, sedangkan tangannya juga ikut meremasi kedua buah dada itu. Cumbuan bibir Ramon kian turun, menuju perut dan kini telah sampai di belahan bibir kemaluan Safitri. Dibuka bibir vagina itu menggunakan jari-jarinya dan langsung saja lidahnya membasahi rongga-rongga kewanitaan Safitri. Biji klitorisnya pun tak luput dari aksi lidah Ramon. Safitri yang masih tak sadarkan diri tentu saja tak memberikan reaksi apa-apa.

Puas lidahnya bermain-main kini Ramon memasuki menu utama. Dia membuka celana dalamnya dan langsung dia arahkan kepala penisnya yang sudah tegang membelah bibir kemaluan Safitri, digenjotnya dengan kasar hingga seluruh batang itu tertanam sempurna. Tanpa menunggu terlalu lama Ramon segera menggoyangkan pinggulnya dengan kasar, membuat tubuh Safitri terlonjak-lonjak dan buah dadanya naik turun seiring dengan goyangan Ramon.

Beberapa saat Ramon menyetubuhi Safitri dirasakannya vagina sempit yang tadinya kering itu mulai basah oleh cairan Safitri. Bibir wanita muda inipun mulai mengeluarkan desahan pelan, namun kesadarannya belum kembali. Ramon kemudian membalikan tubuh Safitri hingga tengkurap, lalu menghajar lagi kemaluan wanita itu dengan kasarnya.

Safitri perlahan mulai sadar dari pingsannya, merasakan tubuhnya bergoyang-goyang. Dia merasakan sesuatu yang keras sedang memenuhi liang kewanitaannya. Hentakan keras dari Ramon perlahan mengembalikan kesadarannya, hingga dia mulai merintih dan mendesah. Desahan ini tentu saja membuat Ramon semakin bergairah dan bersemangat menggenjot Safitri.

“Eehmmm,, aahhh,, eehmm,” terdengar desahan dari bibir Safitri.

Dari sejak tubuhnya dijamah tadi Safitri ternyata bermimpi sedang dijamahi oleh Marto, hingga kini kesadarannya perlahan kembali dia masih mengira Martolah yang sedang menyetubuhinya. Namun ketika kesadarannya hampir pulih sepenuhnya, dia teringat sesaat sebelum pingsan dia hendak menolong seorang pengendara motor yang mengalami kecelakaan, namun tiba-tiba sesuatu mendekapnya hingga dia tak ingat apa-apa lagi.

Matanya kini terbuka, melihat sebuah ruangan yang asing buatnya, ini bukan kamarnya. Lalu dimana dia sekarang? Dan bukankah Marto sudah beberapa hari ini menghilang tanpa pernah mendatanginya lagi, lalu siapa yang menyetubuhinya? Diapun segera menolehkan wajahnya ke belakang dan betapa terkejutnya dia mendapati seorang pria yang sama sekali tak dikenalnya sedang menindih tubuh mungilnya sementara penis pria itu sedang mengaduk-aduk liang kemaluannya.

“Hei sii siapa kamu? Hentikaan aahh, hentikaan katakuuu ooouhh.”

“Kamu sudah bangun manis? Haha, nikmati saja sayang, memekmu enak sekali, pantas saja si Marto tergila-gila padamu, haha,” jawab Ramon sambil tetap menggenjot Safitri dengan kasarnya.

“Aahhh stooopp, aaaarhhh,” Safitri mencoba berontak namun tenaganya kalah dengan pria itu. Terlebih lagi dia baru saja tersadar dari pengaruh obat bius dan dirinya juga sedang disetubuhi. Entah sudah berapa lama dia diperkosa hingga tubuhnya saat ini sudah lemas.

Dia hanya bisa menangis tanpa bisa melakukan perlawanan berarti. Dia pasrah saja ketika bibir dan lidah Ramon menyusuri tengkuk dan telinganya, namun langsung menutup rapat bibirnya ketika hendak dicium oleh Ramon. Dia merasakan liang vaginanya masih agak sakit, dan terasa penuh. Penis pria ini hampir sama besar dengan punya Marto, tapi terasa sedikit lebih tebal.

Safitri yang sudah beberapa hari tak dijamah oleh Marto, lama-lama mulai naik birahinya. Dia berusaha menahan sekuat mungkin untuk tidak menikmati pemerkosaan ini dengan mengatupkan erat bibirnya, namun tubuhnya tak bisa berbohong, liang vaginanya kini semakin basah. Ramon yang mengetahui wanita ini mulai menikmati permainannya kini lebih mengatur tempo gerakannya. Masih menggenjot dengan kecepatan tinggi tapi tidak sekasar sebelumnya, dan ini semakin membuat Safitri merasakan nikmat di vaginanya, hingga tanpa sadar membuka mulutnya untuk mendesah, yang langsung saja disambar oleh Ramon.

Lidah Ramon meliuk-liuk masuk ke mulut Safitri dan menarik lidah wanita itu. Safitri yang kini mulai terbawa birahi tanpa sadar mulai membalas pagutan Ramon, dan pinggulnya pun mulai bergerak mengikuti gerakan dan sodokan Ramon. Sekitar lima menit dalam posisi itu membuat vagina Safitri kian basah, hingga akhirnya tanpa bisa dicegah diapun mendapatkan orgasmenya. Tak lama setelah mendapatkan orgasmenya tangis Safitripun kembali pecah. Tak disangkanya dia mendapatkan orgasme saat dirinya justru sedang diperkosa oleh pria yang sama sekali tak dikenalnya.

Ramon tersenyum puas bisa membuat wanita itu takluk. Dia menarik penisnya keluar, kemudian membalikkan tubuh Safitri, dan kemudian langsung menggenjotnya lagi. Safitri hanya menutup matanya saja, dia tak ingin melihat wajah pemerkosanya itu, dia tak ingin melihat wajah pria itu tersenyum karena telah berhasil menaklukannya. Dia hanya ingin semuanya ini cepat berakhir.

Ramon terus mengerjai tubuh Safitri, membolak-balikan sesukanya, membuat beberapa kali Safitri orgasme, hingga akhirnya dia menghentak keras penisnya saat cairan spermanya yang banyak menyembur di dalam vagina Safitri, membasahi dasar rahim perempuan itu dan membuatnya mendapatkan orgasme untuk yang kesekian kalinya.

***

“Sluuurrpp,, eeeemmppph sluuuurrppaahh.”

“Aaahh terus mbak, oouughh enak banget seponganmu mbak, aaahh.”

Seorang pria nampak sedang merem melek saat penisnya yang sudah tegak mengacung kini dikulum oleh seorang wanita cantik. Sudah hampir sepuluh menit wanita itu duduk bersimpuh di hadapan selangkangan pria itu. Dia tak percaya bisa mengelabuhi wanita ini dengan begitu mudahnya, hanya dengan mengatakan bahwa dia beberapa kali melihat si wanita ini berbuat mesum dengan bosnya di dalam mobil di depan rumahnya, membuat wanita itu panik dan terpaksa memenuhi permintaan wanita itu untuk mengulum penisnya.

“Oohh Mbak Lia, kontolku enak banget mbak di sepongin sama mbak.”

Lia tak menjawab, dia lebih berkonsentrasi untuk membuat pria itu secepatnya mengeluarkan maninya agar dia bisa cepat kembali ke rumahnya. Terlebih lagi dia melakukan itu di angkringan milik pria itu, takutnya kalau sewaktu-waktu ada orang yang datang, atau ada pengguna jalan yang melihat perbuatan mesum mereka, apalagi kini tangan pria itu sudah masuk ke dalam kaos dan bhnya, meremasi kedua gundukan payudaranya,

“Aahh Mbak Lia, aku mau keluar mbak, telen semua pejuhku mbak, aku keluar aaagghh.”

Crot crot crot, pria itupun berejakulasi di dalam mulut Lia, mau tak mau Lia segera menelan semuanya, lalu menjilati kemaluan pria itu untuk membersihkannya

“Udah ya mas, tolong jangan bilang ke siapa-siapa yang mas lihat kemarin itu.”

“Hehe, tenang aja mbak, asalkan saya boleh nyobain memek mbak juga, saya bisa jaga rahasia kok mbak.”

“Yang itu lain kali aja mas, saya udah ditunggu suami saya, cepetan bikin susu jahenya.”

“Iya Mbak Lia sayang,” jawb pria itu sambil menowel dagu Lia.

Lia hanya melengos saja. Dia tak menyangka perbuatan mesumnya dengan mendiang bossnya diketahui oleh orang lain. Dengan ancaman akan diadukan ke suaminya, dia terpaksa menuruti kemauan pria itu. Padahal dia ke angkringan itu sebenarnya hanya disuruh oleh suaminya untuk membeli susu jahe saja. Untung suasana angkringan dalam kondisi sepi saat itu, dan tidak ada orang yang datang selama dia memberikan servis oral kepada pria itu.

Tapi dia tahu pria itu tak akan berhenti sampai berhasil menikmati tubuhnya. Malam ini mau tak mau dia berjanji untuk memberikan tubuhnya lain kali. Lia memang bukan pertama kali ini selingkuh dari suaminya. Sebelum selingkuh dengan Pak Dede, dia sudah pernah berselingkuh dengan teman kerja suaminya, lebih tepatnya kepala sekolah di tempat suaminya mengajar. Setelah kepala sekolah itu dipindah tugas, lalu dia terlibat perselingkuhan dengan Pak Dede, dan kini terpaksa harus melakukannya lagi dengan tukang angkringan di depan rumahnya.

Setelah menerima dan membayar susu jahe itu, dan sempat berciuman sebentar dengan pemilik angkringan itu, Lia pun segera pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah ternyata suaminya masih asik menonton tayangan sepak bola favoritnya, tak mengetahui apa yang baru saja diperbuat oleh istrinya.

“Antri ya mah?”

“Iya pah, ngantri dulu tadi, ni pah susu jahenya.”

“Oh iya, makasih mah.”

“He’em, sama-sama pah.”

Lia pun menemani suaminya menonton sepak bola. Dia tahu kalau sudah sepak bola, apalagi tim favoritnya yang bertanding, maka suaminya tidak bisa diganggu gugat lagi. Dia merasa lega karena suaminya tak bertanya yang aneh-aneh lagi, tak menaruh curiga kepadanya. Padahal tadi jelas-jelas di angkringan sepi tak ada lagi orang yang datang, sehingga tak ada yang melihat perbuatannya itu.

Tanpa diketahui Lia, tak jauh dari angkringan itu, di sebuah tempat yang agak tersembunyi, seseorang telah memperhatikan apa yang dia lakukan selama disana. Dan bahkan mengacungkan jempol dan tersenyum puas kepada si pemilik angkringan ketika Lia pulang ke rumah. Si pemilik angkringan itupun tersenyum puas dengan segala rencana licik di kepalanya.

Sedangkan orang yang mengintip tadi kemudian pergi meninggalkan tempat persembunyiannya setelah memastikan adegan panas tadi telah terekam dengan baik di ponselnya. Dia pun tak lupa menghubungi seseorang untuk melaporkan hasil pengintaiannya.

“Hallo, ada apa

“Hallo boss, aku ada sesuatu yang menarik.”

“Soal apa

“Soal target boss, aku punya rekaman yang asik nih.”

“Oh ya? Wah bagus-bagus, segera kasih ke aku ya

“Oke, besok aku kasih liat ke boss.”

***

“Ooohh aahh paahh, enak bangeet paahh.”

“Aahh mamaah, mamah binal banget malem ini, oouhh.”

“Nggak tahu paah, aahh mama mau dapet lagi paah, aaaaahh.”

Nadya mendapatkan kembali orgasmenya malam itu setelah beberapa menit bergerak liar di atas tubuh Hendri, suaminya. Entah kenapa dia begitu bernafsu malam ini tak seperti biasanya. Sudah beberapa kali dia mendapatkan orgasmenya malam ini. Dia sama sekali tak sadar kalau suaminya sudah memberikan sesuatu ke minumannya saat makan malam tadi, yang membuatnya bisa sebinal ini.

Hendri hanya tersenyum mendapati istrinya Nadya terengah-engah di atas tubuhnya. Dia sendiri juga sudah meminum obat kuat yang diberikan oleh temannya Ramon. Ya, beberapa hari ini dia memang kembali dekat dengan Ramon. Beberapa kali mereka bertemu dan membicarakan banyak hal, bahkan termasuk urusan ranjang. Ramon bercerita bahwa dulu istrinya sangat membosankan ketika bercinta, namun sejak diam-diam diberikan obat perangsang oleh Ramon istrinya selalu melayaninya dengan binal.

Ramon kemudian menawarkan obat itu kepada Hendri. Hendri sendiri yang tak pernah ada masalah dalam urusan ranjang awalnya enggan untuk menerimanya, namun setelah dipaksa oleh Ramon akhirnya dia mau juga. Ramon pun memberinya obat kuat, takut kalau Hendri tak bisa mengimbangi istrinya, dan itu memang hampir terjadi beberapa hari lalu, hampir saja dia kalah melawan istrinya yang sudah diberi obat perangsang, karena itulah malam ini dia meminum obat kuat itu dan sudah satu jam ini mereka bercinta dengan panasnya.

Hendri tak sadar bahwa memberikan obat perangsang itu hanya akal-akalan Ramon saja. Bukan untuk bagaimana menguasai Nadya, karena itu bisa dia lakukan sendiri, tapi lebih kepada membuat Hendri yang selama ini setia, tergoda untuk mencoba perempuan lain dengan berbekal obat perangsang itu, dan sasaran yang dimaui oleh Ramon adalah Hendri nantinya bisa berselingkuh dengan Lia, teman istrinya sendiri.

“Masih kuat kan mah? Papah belum keluar ini.”

“Papah hebat banget malem ini pah? Nggak kayak biasanya.”

“Iya lah, mama aja jadi binal gitu, papa nggak mau kalah dong, hehe. Ayo mah lanjutin.”

Nadya kini berbaring lemas, tenaganya sudah benar-benar terkuras untuk melayani suaminya. Dia sudah berkali-kali orgasme tapi penis suaminya masih tegak berdiri. Diapun pasrah saja ketika suaminya kembali memasukkan penisnya ke lubang kemaluan Nadya yang sudah sangat basah itu. Hendri menggoyang-goyangkan penisnya dengan kuat, ingin mengejar puncak birahinya.

Sang istri mengimbanginya dengan bergoyang mengikuti setiap gerakan pinggul Hendri. Birahi dalam dirinya masih tinggi, meskipun dengan badan yang sudah sangat lemas dia berusaha sekuat tenaganya untuk bisa memuaskan suaminya. Dan semakin lama kocokan Hendri semakin cepat, dirasakan puncaknya akan segera tiba.

“Aaahh maahh papah mau keluaar aahh, ohh enak banget memek kamu maahh.”

“Aaahh terus paah, mamah juga mau keluar, barengan paah.”

“Ii,, iyaa maah, ini papah keluar maah, papah keluaaaaaarrrrhh.”

Dan crot crot crot, entah berapa kali penis itu menyembur, banyak sekali cairan sperma yang keluar dari kemaluan Hendri. Hal yang membuat tubuh Nadya juga ikut mengejang, karena disaat yang bersamaan dia juga orgasme lagi, sebuah orgasme yang dahsyat, bahkan diikuti oleh sebuah gelombang orgasme yang lainnya ketika semprotan sperma suaminya itu menghantam dinding rahimnya.

Keduanya kini saling berangkulan dengan nafas terengah-engah, menikmati setiap detik kenikmatan yang baru saja mereka dapatkan. Permainan ranjang terpanas mereka selama ini. Hendri tentu saja puas, karena ternyata memang benar omongan Ramon, obat yang dia berikan ke istrinya membuat istrinya menjadi wanita yang binal. Selama ini memang pelayanan ranjang yang diberikan Nadya tak pernah mengecewakannya, tapi malam ini lain, lebih hebat daripada yang sudah-sudah.

“Pah, papah hebat banget malam ini, kontol papah masih keras aja itu di dalam.”

“Iya nih mah, papah nafsu banget malam ini, apalagi liat mamah binal kayak tadi itu.”

“Mamah juga nggak tahu pah kenapa bisa binal banget malem ini, hehe.”

“Tapi binalnya buat papah aja ya mah, jangan dibagi sama orang lain, hehe.”

“Ih papah, ngapain juga dibagi sama orang lain.”

“Hehe, ya siapa tahu mah.”

“Huu, emang papah mau mamah binal sama orang lain?”

“Nggak sih mah, cuma pernah ngebayangin aja, hehe.”

“Hah, ngebayangin gimana pah?”

“Ya ngebayangin mamah dientot sama orang lain, haha.”

“Ih dasar papah, kok bisa-bisanya ngebayangin istri sendiri dientot sama orang lain?”

“Ya nggak tahu ya mah, cuma kalau ngebayangin mamah lagi dientot orang lain, papah kok jadi konak ya mah, hehe.”

“Ih papah kok aneh sih?”

“Emang mamah nggak pernah mah?”

“Pernah apa? Ngebayangin papah ngentot sama cewek lain?”

“Yaa bisa gitu, atau bisa jadi mamah ngebayangin ngentot ama cowok lain mah?”

“Belum pernah sih pah, ah masak mau ngebayangin kayak gitu sih?”

“Eh kita coba yuk mah, kita ngentot sambil papah ngebayangin mamah dientot cowok lain, trus mamah ngebayangin papah ngentot sama cewek lain, gimana?”

“Duh, fantasi papah kok aneh-aneh sih pah?”

“Ya kan cuma fantasi aja mah, jangan sampe kejadian juga sih, gimana mah, pasti asik tuh.”

Nadya tampak berpikir, dia sebenarnya merasa bersalah kalau suaminya membayangkan dirinya disetubuhi oleh orang lain, karena pada kenyataannya dia memang sudah bersetubuh dengan pria lain, dengan mendiang Pak Dede, mantan atasannya.

“Hmm, emang papah mau ngebayangin mamah dientot siapa pah?”

“Hmm, papah pengen ngebayangin mamah dientot sama Mas Ramon ya mah?”

Belum menjawab, Nadya sudah merasakan penis suaminya kembali mengeras di dalam vaginanya, dan kini mulai digerakan perlahan.

“Aahh iya deh pah, terserah papah aja, ahhh.”

“Trus mamah mau ngebayangin papah ngentotin siapa mah?”

“Hhmm aahh, papah maunya ngentotin siapa pah? Oouuhh aaahhh.”

“Sama temen mamah aja maahh.”

“Aaahh paahh, ouuhh sama Lia ya paaahh.”

“Iya maah, bayangin papah sama Lia mah, mamah sama Mas Ramon.”

Entah kenapa Nadya terpikirkan sahabatnya itu. Mungkin karena suaminya berfantasi dia sedang dikerjai oleh sahabatnya sendiri, membuat Nadya juga berfantasi suaminya sedang mengerjai sahabatnya itu. Terlebih dia tahu kalau Lia juga adalah salah satu korban Pak Dede, sama seperti dirinya.

Namun yang terjadi adalah, Hendri benar-benar membayangkan dia sedang menyetubuhi sahabat istrinya itu. Dia sama sekali tak membayangkan istrinya disetubuhi oleh pria lain, dia bahkan tak terlalu peduli. Dengan membayangkan sahabat istrinya itu saja sudah membuat nafsunya langsung naik di ubun-ubun.

Sedangkan Nadya yang kini sudah digenjot lagi oleh Hendri, juga seperti itu. Dia justru sedang membayangkan dirinya disetubuhi oleh pria lain, yaitu mendiang Pak Dede, tak hanya itu tapi dia juga mulai membayangkan dirinya disetubuhi oleh sahabat suaminya, Ramon.

Sementara itu di saat yang bersamaan, di suatu yang jauh dari rumah Hendri dan Nadya, tampak terlihat seseorang sedang memandang ke sebuah layar monitor. Dia terlihat begitu menikmati adegan panas yang disuguhkan layar monitor itu, bahkan sambil mengelus-elus selangkangannya sendiri.

“Nadya, kamu memang binal sekali, tunggu sampai aku bisa menjejalkan kontolku ini ke dalam memekmu yang legit sayang.”

Ramon nampak begitu menikmati pemandangan di layar monitor itu, pemandangan dimana Nadya sedang bercinta dengan hebatnya dengan Hendri. Dia sudah mulai berhasil mempengaruhi Hendri berbekal obat perangsang dan obat kuat yang dia berikan. Tak hanya itu, bahkan Ramon pernah mengajak Hendri untuk bersenang-senang dengan istrinya dan seorang lagi, yaitu Tata. Semua ini demi membuat Hendri semakin terhanyut dan nantinya memberinya lampu hijau untuk bisa menjamah istrinya, Nadya.

Nafsu Ramon yang kembali memuncak membuatnya menghentikan kegiatannya menonton live show dari suami istri itu dan segera kembali di kamar, dimana Safitri tengah terlelap kelelahan setelah dipaksa melayani Ramon berjam-jam lamanya. Safitri masih polos tanpa memakai pakaiannya sama sekali. Ramon mendekatinya, mulai kembali menjamah tubuh indah itu, hal itu membuat Safitri kegelian dan terbangun.’

“Aahh mas udah, aku capek.”

“Sssttt, udah nggak usah ngelawan, layani aku malam ini yaa manis.”

Tubuh Safitri sudah lemas, namun tugasnya belum usai malam itu. Dia masih terus dipaksa melayani Ramon hingga menjelang subuh, membuat dinding vaginanya serasa lecet. Badannya dipenuhi peluh dan sperma. Lubang kemaluan dan mulutnya berkali-kali menjadi tempat pembuangan sperma Ramon. Saat permainan usai mereka berdua terlelap saking capeknya.

Safitri terbangun saat merasakan ada tangan yang sedang memeluknya. Dia tertidur dengan posisi membelakangi dan dipeluk oleh Ramon. Saat hendak menggeser tangan itu ternyata dia juga membangunkan Ramon.

“Udah bangun sayang?”

“Udah, aku mau mandi dulu,” jawab Safitri ketus.

Tanpa menjawab Ramonpun ikut bangun dan menuju ke kamar mandi bersama Safitri. Acara mandi bersamapun dilewati dengan sekali lagi Safitri dipaksa untuk melayani Ramon. Dikulumnya penis Ramon hingga keras sebelum dimasukan ke vagina Safitri dan digoyangkan hingga keduanya sama-sama mendapatkan orgasme.

Setelah selesai mandi mereka kembali menuju kamar untuk memakai pakaiannya lagi. Safitri teringat pria itu semalam menyebut nama Marto, mungkin dia bisa mendapatkan informasi tentang Marto dari pria ini.

“Kamu siapa sebenarnya? Apa kamu kenal dengan Marto?”

“Ya, aku temannya Marto.”

“Lalu kamu ini siapa?”

“Kamu nggak perlu tahu aku siapa, cukup tahu saja kalau aku temannya Marto.”

“Kenapa kamu,, membawaku kemari? Dan dimana Marto?”

“Aku cuma penasaran aja sama kamu. Aku juga lagi nyari Marto, kupikir dia bersamamu makanya aku nyari kamu,” jawab Ramon berbohong.

“Gimana bisa kamu tahu tentang aku?”

“Sudah kubilang aku ini temannya. Dia pernah cerita tentang kamu. Ternyata permainan ranjang kamu cukup hebat, pantas Marto tergila-gila padamu, haha.”

“Dasar sinting!” umpat Safitri.

“Haha, sudahlah, sebaiknya kamu pulang, kurasa anakmu sudah menunggu di rumah. Oh iya, satu hal lagi. Kamu jangan sampai bilang kejadian ini ke siapapun ya, karena apa yang kita lakukan semalam semuanya sudah aku rekam, dan setiap saat aku butuh kamu harus siap. Aku rasa kamu mengerti kan resikonya kalau menolakku? Haha.”

“Apa katamu? Mana rekaman itu? Berikan padaku!” bentak Safitri.

“Kamu tahu itu tak akan pernah terjadi sayang. Dan mulai sekarang, kamu adalah milikku, ingat itu!” gertak Ramon, sambil memeluk dan mencium Safitri yang kini sudah berpakaian lengkap.

Safitri tak bisa mempercayai ini. Baru saja dia merasakan sedikit kebahagiaan saat muncul rasa sayangnya ke Marto, kini dia harus mengalami hal seperti ini. Hal yang sama persis dengan yang terjadi dulu, saat Marto pertama kali memperkosanya dan menjadikannya budak nafsu, kini harus dialaminya lagi. Terlebih dia sama sekali tak tahu siapa pria ini, dan apa yang akan terjadi kedepannya.

Ramon mengikuti Safitri hingga masuk ke dalam mobilnya, dia menjelaskan mereka sedang berada dimana dan bagaimana Safitri bisa pulang. Ramon memberi tahu kalau melalui ponsel Safitri dia sudah mengabari ibu mertuanya bahwa dia bermalam di kantor. Sekali lagi Ramon memperingatkan Safitri agar tidak melakukan hal-hal bodoh yang akan merugikan dirinya sendiri dan keluarganya.

“Setidaknya beri tahu nama kamu,” pinta Safitri.

“Ramon, kamu bisa memanggilku Tuan Ramon, nona Safitri,” jawabnya tersenyum.

Safitripun berlalu meninggalkan rumah itu dengan perasaan kacau balau. Entah kenapa nasibnya menjadi seperti ini. Dia tak mungkin melaporkan ini kepada siapapun, terlebih Wijaya. Kehadiran Marto saja tak disampaikannya, apalagi kejadian ini, pasti nantinya akan menyeret nama Marto juga. Dia semakin merindukan kehadiran Marto, dan berharap bisa menyelamatkannya dari situasi ini.

***

“Pak, bangun pak,” seorang wanita menggoyang-goyangkan badan lelaki yang terbaring di sampingnya.

“Heemmm, aduuuh entar dulu non, masih ngantuk nih.”

“Heeh, ayo bangun, udah siang ini.”

“Jam berapa sih non?”

“Udah hampir jam 11 pak, ayo bangun kita check out

Sarbini memaksakan membuka matanya. Tubuh tuanya masih terasa letih, setelah semalam suntuk mengayuh birahi dengan Tata. Ditambah lagi suasana kamar hotel yang nyaman membuat badannya semakin terasa berat untuk digerakan. Dia melihat Tata duduk si pinggir ranjang, masih telanjang bulat, belum mengenakan apa-apa. Rambutnya juga masih acak-acakan, sepertinya dia juga baru bangun. Pria tua itu bergerak melemaskan badannya, kemudian bergerak mendekat dan memeluk Tata.

“Non Tata belum mandi ya?”

“Hehe, belum pak, ini juga baru bangun.”

“Pantesan masih bau pejuh, hehe.”

“Huuu, pejuh bapak juga ini.”

“Ya udah, mandi bareng yuk non,” ajak Sarbini sambil menciumi tengkuk Tata.

“Ihh masih aja ya, belum puas semalem udah nggarap tubuh saya?”

“Hehe, bapak ketagihan sama tubuh non Tata nih, non Tata hot banget mainnya, hampir aja bapak kewalahan.”

“Bapak juga hebat banget, coba kalau masih muda, udah pingsan saya mungkin, hehe.”

Mereka pun sempat berciuman dulu sebelum akhirnya menuju kamar mandi. Tapi dasarnya Sarbini tidak ada puas-puasnya dengan tubuh Tata, mereka mengulangi permainannya kembali di kamar mandi, hingga berpelukan erat saat sama-sama mendapatkan orgasmenya. Setelah itupun mereka saling menyabuni dan membilas tubuh masing-masing.

“Pak, bapak ini punya nafsu ama tenaga yang besar gitu, istri bapak nggak ampun-ampun itu?” tanya Tata ketika mereka sudah kembali berpakaian.

“Wah ya ampun-ampunan lah non, dulu waktu masih muda aja kewalahan melayani bapak, apalagi sekarang udah tua, haha.”

“Haha, pantesan yaa semangat banget nggenjotin yang muda.”

“Iya dong, apalagi bening kayak non Tata, hehe.”

“Beningan mana saya sama Mbak Ara pak?”

“Waduh, sama-sama beningnya non, hehe.”

“Halah, ngomong gitu biar dapet jatah dari saya terus kan?”

“Haha, non Tata tahu aja deh.”

“Nggak pernah kepikiran pak ngentotin Ara?” Tata mulai menggoda Sarbini.

“Waduh, saya nggak berani non, takut ama Tuan Wijaya.”

“Yang bener pak sama sekali nggak pernah kepikiran?” goda Tata lagi.

“Hmm, yaa sebenernya pernah kepikiran sih non, tapi ya cuma berani ngebayangin aja, hehe.” aku Sarbini.

“Haha, emang ngebayangin apa Pak?”

“Yaa ngebayangin gitu, sama kayak kita semalem.”

“Semalem yang mana pak? Yang bapak saya sepongin, apa ngentotin memek saya? Apa nganal saya?” Tata semakin menjadi menggoda Sarbini.

“Ya kalau bisa semuanya dong non, haha.”

“Kalau Aranya mau gimana pak?”

“Haha, mana mungkin non Ara mau sama saya, non Tata ni ada-ada aja.”

“Yaa siapa tahu pak, buktinya saya, setelah tahu kontol Pak Sarbini perkasa gitu, saya malah ketagihan sama bapak, hehe. Kita kan nggak tahu segede apa kontol suaminya itu pak, kalau ternyata gedean punya bapak, pasti Ara bakal ketagihan tu sama bapak, jadi klepek-klepek deh. Jadi gimana kalau Aranya mau pak?”

“Ya kalo non Aranya mau sih, siapa juga cowok yang bakal nolak non.”

“Iya sih pak. Siapa tahu juga boolnya masih perawan pak, belum pernah dipakai. Tapi emang Ara tuh bodinya yahud lho pak,” goda Tata.

“Ah, tahu darimana non Tata?”

“Lha kan dia pernah nyobain kebayanya sama saya waktu itu, bapak juga yang ngantar kan? Saya aja yang cewek suka lho pak lihat bodinya dia, susunya sekel banget pak, kenyal banget, putingnya aja pink gitu, belum lagi pantatnya, beuh kalah punya saya pak,” Tata semakin menggoda Sarbini.

“Ah masak sih non?” Sarbini mulai terbawa godaan Tata, dan mulai membayangkan tubuh nona majikannya.

“Iya pak, dibilangin kok. Emang bapak nggak pernah merhatiin? Kulitnya putih mulus pak, tubuhnya seksi banget, perutnya rata, betisnya, pahanya, duh apalagi pantat sama susunya itu pak, saya aja kalau jadi cowok, udah saya entotin dari belakang kemarin itu pak.”

Tata mencoba untuk menggoda Sarbini dengan menceritakan saat Ara datang kepadanya untuk mencoba-coba baju pengantinnya. Saat itu memang Tata cukup terkagum dengan tubuh sempurna milik Ara. Sayang memang dia tidak sampai mengambil fotonya, karena saat itu memang dia belum tahu kalau Baktiawan akan melakukan sesuatu kepada gadis itu, kalau seandainya tahu lebih awal, dengan mengambil foto telanjang Ara saat sedang mencoba baju pengantinnya itu pastinya sekarang akan lebih memuluskan rencana bossnya itu.

“Ya pernah sih tapi nggak sampai segitunya non, dia kan bajunya ketutup terus non, saya cuma merhatiin wajahnya doang.”

“Hmm, saya yakin pak, kalau bapak udah ngerasain ngentot sama Ara, pasti ketagihan deh, pasti bakalan lupa sama saya, hehe. Apalagi bapak kan seneng banget tuh ngentotin bool sambil ngeremes-remes pantat saya, pasti bapak bakal betah tuh nyodokin Ara dari belakang.”

“Ah, non Tata bisa aja, bikin saya jadi pengen nih non, hehe.”

“Pengen apaan pak?” tanya Tata sambil matanya mengerling.

“Ya pengen ngentotin non Ara, haha.”

“Ngentot doang? Ngentotin apanya pak?” goda Tata, yang kini tangannya mengelusi penis Sarbini yang sudah tertutup celana panjangnya.

“Hmm, bapak pengen ngerasain semua non, pengen ngejilatin seluruh tubuh non Ara, ngerasain sepongannya, pengen ngecrotin pejuh saya ke muka ama kerudungnya, pengen ngeyotin susu non Ara, ngejilatin memeknya, ngentotin memek sama boolnya non Ara, ngecrotin memek sama boolnya non Ara juga, pengen ngebuat non Ara susah buat bangun dan jalan lagi setelah saya entotin habis-habisan, haha.”

“Haha, bapak ternyata nafsu juga sama majikannya. Moga-moga aja bisa ya pak, saya dukung deh, kalo perlu saya bantuin entar, hehe.”

“Bantuin gimana non?”

“Ya siapa tahu saya bisa bantuin bapak buat bisa ngentotin Ara. Kalau sekarang disini ada saya sama Ara, sama-sama telanjang nggak pake baju sama sekali, sama-sama ngangkangnya, bapak mau ngentotin siapa?”

Tiba-tiba Sarbini menjadi terbayang-bayang majikannya itu, membayang tubuh indah Ara, membayangkan bagaimana rasanya menyetubuhi gadis cantik berkerudung itu. Baru membayangkannya saja sudah membuat penisnya tegak sempurna, gimana kalau itu benar-benar kejadian? Bisa-bisa dia nggak tidur sehari semalam cuma buat menyetubuhi majikannya itu sampai puas.

Dia jadi penasaran kini, seperti apa permainan Ara kalau di ranjang. Seperti apa goyangannya waktu nunggangin suaminya. Seliar apa dia kalau dientot dari belakang. Sepanas apa kalau dia mengulum penis besarnya. Semerdu apa desahannya kalau memeknya lagi disodok-sodok. Sesempit apa lubang vagina dan anusnya. Dia tak sadar kini telah terobsesi oleh majikannya itu, terlebih dia digoda oleh Tata sambil dielus-elus penisnya hingga tegang. Dia malah sedang membayangkan kalau yang mengelusi penisnya itu bukan Tata, melainkan Ara, dengan kerlingan nakal dari kedua matanya yang indah.

Sarbini benar-benar tak menyadari bahwa ini semua adalah jebakan dari Tata untuknya. Sejak beberapa hari yang lalu membuat janji untuk ketemuan, hingga berlanjut ke permainan ranjang semalaman yang dahsyat, dan kini sedang disugesti untuk menjadi terobsesi kepada Ara, majikannya sendiri. Hal yang tak pernah dia pikirkan sejak dulu. Padahal Sarbini termasuk salah satu orang yang dekat dengan Ara sejak gadis itu masih kecil. Dia yang setiap haru mengantar-jemput Ara ke sekolahnya, sebelum punya mobil sendiri sebagai hadiah atas keberhasilannya memasuki perguruan tinggi terbaik di negeri ini.

Semua ini memang adalah bagian dari rencana Baktiawan. Dia yang merasa kesulitan menjalankan rencana lantaran ketidakberesan video yang harusnya diterima dari kamera pengintai di rumah Ara, mencoba mencari alternatif lain, dan orang yang dirasa tepat adalah Sarbini, supir pribadi Wijaya, yang kemungkinan tidak akan dicurigai oleh keluarga Wijaya karena telah sekian tahun bekerja untuk mereka.

Sarbini memang akan sulit didekati jika hanya dibujuk atau diiming-imingi dengan uang dan semacamnya karena hutang budinya ke keluarga Wijaya. Namun pria yang sudah beranjak tua itu masihlah seorang lelaki normal yang bisa dengan mudah dipengaruhi apabila sudah jatuh dalam pelukan seorang wanita. Dan disaat inilah Tata mengambil peran sebagai bidak catur permainan Baktiawan dalam mempengaruhi dan membuat Sarbini menjalankan perintahnya, meskipun itu tanpa disadari oleh Sarbin sendiri.

Tata hanya tersenyum melihat Sarbini yang melamun. Penis pria ini mengeras, dia pasti sedang membayangkan majikannya itu. Tata sudah mulai memasukkan sugesti-sugesti itu ke Sarbini. Dia punya waktu sebulan untuk membuat Sarbini menjadi terobsesi pada majikannya itu, dan pada saatnya nanti memanfaatkan Sarbini untuk memuluskan rencananya. Dia tahu ini tak akan mudah, dan tak hanya dengan sekali ini saja bisa langsung membuat Sarbini berada di pihaknya. Dia harus bersabar, dan meluangkan waktu lebih banyak lagi untuk mempengaruhi Sarbini.

Sementara itu tanpa disadari Sarbini, Tata telah merekam semua pembicaraan mereka barusan, bahkan persetubuhan mereka semalam pun dia rekam juga, sebagai senjata, untuk membuat Sarbini menjadi salah satu pionnya.

“Udah yuk pak udah mau jam 12, kita check out dulu.”

“Eh iya non.”

***

Sakti menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Dia baru saja sampai Jogja dan langsung menuju hotel untuk beristirahat. Setelah seharian bergulat dengan pekerjaannya tiba-tiba sang ayah menyuruhnya untuk berangkat ke Jogja hari itu juga, karena ada klien yang harus segera ditemui. Pria itu merasa kesal pada ayahnya, kenapa harus mendadak begini, kenapa tidak dari sebelumnya dia diberi tahu. Untung saja masih bisa dapat tiket, meskipun tadi hampir saja dia ketinggalan pesawat karena waktunya yang terlalu mepet. Akhirnya dia mengambil ponselnya untuk menghubungi seorang sahabatnya, Budi.

“Hallo Cing.”

“Eh Sakti, kenapa Sak

“Lagi ngapain lu Cing?”

“Biasalah, bercengkerama dengan istri tercinta dong, haha

“Haha, tae lu Cing, bahasa lu kayak bapak-bapak poskamling aja.”

“Haha, nggak boleh sirik dong bro, makanya buruan sana nikah. Eh iya, ada apa nih bro tumben telepon

“Nggak, gw cuma mau kasih tahu aja, gw lagi di Jogja nih, hehe.”

“Wah iya tho? Dari kapan

“Baru nyampe Cing, ini baru banget masuk hotel.”

“Oalah, lha rencana mau berapa lama disini Sak

“Nggak lama sih, paling cuma 3 harian aja.”

“Ya udahlah, ketemuan dulu kita bro, jangan keburu pulang lho ya

“Haha, beres, entar gw kabarin lu lagi ya, mau molor dulu ni gw, capek banget badan.”

“Oke bro

Sakti menutup ponselnya. Dia memang tak bisa lama-lama disini, karena urusan bisnisnya di Jakarta juga sedang banyak-banyaknya, sementara sang ayah sudah tidak terlalu ikut campur lagi dengan urusan bisnis ini. Tapi dia memang ingin menyempatkan waktunya bertemu dengan Budi, sahabatnya semasa kuliah dulu, sekalian berkenalan lebih dekat dengan istrinya yang cantik.

Ah, capek gini, mending pijat dulu deh sebelum tidur, kali aja yang mijat kesini bening orangnya, udah beberapa hari ini keris nggak dicuci, pikir Sakti. Dia pun segera menghubungi salah satu nomor yang ada di pesawat telepon di kamarnya itu, untuk memesan terapis. Sekitar setengah jam menunggu dan hampir ketiduran, tiba-tiba, ting tong, bel di kamarnya berbunyi, diapun segera membuka pintu, dan matanya pun terbelalak melihat siapa yang datang.

“Selamat malam bapak, tadi pesan terapis?” sapa wanita itu dengan ramah dan merdu.

“Oh iya mbak, silahkan masuk.” Sakti tersenyum mempersilahkan wanita itu masuk.

Wanita itupun tersenyum dan kemudian masuk. Seorang wanita yang tak lebih tinggi dari pundak Sakti, dengan berat badan yang agak kelebihan dibandingkan tinggi badannya, sedikit gelap kulitnya, dan sepertinya sudah sedikit berumur. Jauh sekali dari ekspektasi berlebihan Sakti, sangat jauh.

‘Ah what the fuck, kenapa kok yang dateng malah beginian, haduuh nggak jadi indehoy deh gw malam ini’ batin Sakti sambil menepuk jidatnya.

***

POV Budi

“Siapa mas?”

“Oh ini dek, si Sakti, dia ngabarin lagi ada di Jogja, baru nyampai katanya.”

“Sakti?”

“Iya, Sakti, Saktiawan Mahendra, temenku kuliah, yang sekost sama aku dulu, empat sekawanku itu lho dek.”

“Oalah Sakti yang itu tho, ya diajak ketemuan aja mas mumpung lagi di Jogja kan.”

“Iya dek, tadi udah kuajak kok, katanya sih besok mau ngabarin lagi, soalnya dia kesini kan karena ada urusan kerjaan.”

“Ya kalau sampai dia hubungi mas gitu kan berarti ada waktu kosong paling nggak, minta diajak main mungkin itu mas, hehe.”

“Haha iya dek bener juga kamu, entar sama kamu sekalian ya temenin mas.”

“Iya boleh aja kok,” jawabnya tersenyum.

Aku dan istriku sedang bersantai di ruang keluarga setelah makan malam tadi. Baru saja aku menerima telepon dari temanku kalau dia sedang di Jogja, wah harus nyempetin waktu buat ketemuan ini. Terakhir kali ketemu sama dia sekitar enam bulan lalu pas pernikahanku, waktu itu malah lengkap berempat dengan Dimas dan Ihsan.

Hmm, aku jadi teringat sesuatu, aku teringat ketika bertemu dengan Kamila, mantan pacar Ihsan yang ternyata diperawani oleh Sakti. Pengakuan Kamila yang malah membuatku menaruh curiga ke temanku yang satu ini, apakah mungkin mantan pacarku dulu diembat juga sama anak ini, apa nanti aku perlu tanya ke Sakti ya?

“Mas,,” lamunanku dibuyarkan oleh Ara.

“Eh kenapa dek?”

“Yee dipanggil-panggil malah ngelamun. Lagi mikirin apa sih mas?”

“Hehe, nggak kok dek, lagi mikirin kerjaan aja, kenapa dek?” jawabku nyengir. Aku terpaksa berbohong, nggak mungkin aku jujur bilang ke Ara soal Kamila, sampai sekarang aku belum ngasih tahu dia kalau aku pernah manggil Kamila ke kamar hotel. Ya meskipun kami nggak ngapa-ngapain kan siapa tahu, dan pastinya Ara akan berpikiran yang tidak-tidak mengenai aku dan Kamila.

“Eemm mas, aku, aku mau kasih tahu sesuatu ke Mas Budi, tapi mas jangan marah ya.”

“Marah? Emangnya kenapa dek?” tanyaku penasaran.

Aku mengernyit memandangi istriku. Sesuatu? Jangan marah? Aku menatap matanya dalam-dalam, tapi dia menunduk, menghindari pandanganku sehingga aku nggak bisa melihat ekspresi wajahnya. Aku semakin heran, dia nggak segera berkata apa-apa, membuatku mengira-ngira apa yang mau disampein sama Ara.

“Iya, mas jangan marah, adek, mau bikin pengakuan,” dia mengucapkannya agak terbata-bata, dan wajahnya semakin menunduk.

DEG! Tiba-tiba perasaanku jadi nggak enak. Pengakuan? Apa maksud istriku ini? Ada apa dengannya? Sesuatu? Jangan marah? Pengakuan? Apakah Ara melakukan sesuatu di belakangku? Sesuatu yang buruk? Tiba-tiba darahku berdesir, detak jantungku semakin cepat, antara penasaran dan emosi.

“Pengakuan apa dek? Heh sini lihat mas, jangan nunduk gitu.” tanyaku semakin penasaran, kupegang dagunya dan kuangkat wajahnya hingga menghadapku, tapi matanya seperti melihat ke arah yang lain, seperti takut menatap langsung mataku.

“Adek, adek mau ngaku, kalau adek,,,” dia semakin terbata.

“Kalau adek kenapa dek?” aku semakin tak sabar, sampai-sampai kupegangi kedua pundaknya.

“Adek mau ngaku, kalau,, kalau adek …..”

***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler