. Kamu Cantik Hari Ini Part 39 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 39

0
175
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 39


Ade Indra Putra

Rosi Wahyuni

Bella Wahyuni

Afni Pratiwi

Deanda Putri

Rifa Noerdin

 

“Ayaaaahhh”
“Eh, anak ayah disini jugaaaa… kamu gak ganggu kak Keyla kan?” di saat Bella sudah di pangkuanku yang mengejarku saat aku masuk ruangan Keyla.
“Gak kok kak, malah Key rasa ada teman. Rasanya key punya adek dan punya kakak deh.”
“Emang kamu gak punya saudara ya Key?”
“Aku anak tunggal kak. Ayahku punya kontraktor, Bunda punya bisnis kue. Sehari hari aku ditemani buku aja.”
“Kan sekarang udah ada kakak sama Bella kan Key.” Jawab Rosi sambil mengusap tangan Keyla.
“Anak ayah harus sepintar kak Keyla ya.”
“Iya ayah”

Aku yang sepulang dari kantor langsung menuju rumah sakit dimana Keyla, korban serempetanku kemaren dirawat. Dan aku juga bertemu sama Rosi dan Bella yang ternyata sudah di ruangan Keyla.

“Kok kamu tumben gak takut ke rumah sakit yang?” tanyaku ke Rosi.
“Bella maksa tadi mau liat Keyla. Ya aku beraniin deh.”
“Jadi gak ada hantu kan di rumah sakit?” Tanya candaku dengan memeluk setengah badannya yang sedang duduk itu.
“Apa sih yang. Aku tu cumaaaa….”
“Cieeeee…” potong Bella sama Keyla serempak yang melihat kemesraanku bersama Rosi.

Entah kenapa, pemikiranku kemaren tentang Afni hilang seketika dengan kebersamaanku bersama Rosi dan Bella yang menemani Keyla ini. Aku rasa ada hikmah di semua yang terjadi dengan ini. Apapun itu. Aku yang berdiri di sebelah Rosi yang duduk sejajar dengan tangannya Keyla itu meletakkan Bella di tempat favoritnya, yaitu di atas kasur yang ditempati Keyla memisah Rosi dengan Keyla. Lagi, aku lihat Bella kembali bisa membuat orang lain nyaman dengan kelucuan Bella.

TOK TOK TOK…

“Permisi”

Suara itu, suara yang tak asing di telingaku. Ternyata benar, itu suara Afni. Aku yang sesaat lupa dengan ini tempat tugasnya Afni. Dan sekarang aku bersama “keluarga”ku sedang disini. Aku yang melihat Afni yang masuk ternyata tidak sendiri, melainkan sama Dea, terkejut. Namun, tidak begitu dengan Afni. Mungkin ia sudah mengetahui hal ini, atau juga mencoba menjaga profesionalnya mereka. Dea yang hanya di belakang Afni sedikit melihat ke arahku yang menyiratkan pertanyaannya.

“Eh ada Bella.” kata Afni mengurangi kegugupannya.
“Tante Dokter” jawab Bella.
“Bella turun dulu ya sayang, tante mau periksa kakaknya dulu ya.” Jawab Afni lagi.
“Sore dok.” Sapa Rosi
“Sore mbak, udah berani ya masuk rumah sakit.” Jawab Afni
“Bella yang maksa sih dok. Sore juga mbak, ternyata mbak dokter juga ya.” Tanya Rosi saat melihat Dea.
“Iya mbak. Gimana wisuda kamu? Ditunggu traktirannya lho.” Jawab Dea
“Heheheh.. gampang itu mbak.” Jawab Rosi.

Aku yang hanya terdiam dengan situasi ini sambil menggendong Bella melihat apa yang Afni dan Dea periksa pada Keyla. Afni yang mengecek, dan Dea mencatat apa yang Afni check. Sesekali Dea menoleh ke arahku dengan memperlihatkan mukanya yang heran dengan berbagai pertanyaan di isyaratnya. Dengan hal itu, pemikiran yang hilang sejenak tadi kembali menguasai pikiranku.

“Ayaaahhh.. Bella mau jadi dokter ya yah.”
“Iya sayang, makanya jadi anak yang pintar ya seperti tante dokter itu.” Jawabku

****

“PING !!!”
“Aku tunggu kamu di kafe bawah sekarang.”

Saat aku mendapatkan BBM, dan kulihat itu dari Deanda Putri, sudah bisa aku tebak isinya. Setelah membaca pesan yang sesuai dengan dugaanku ini, langsung meminta izin ke Rosi, Keyla dan Bella untuk pergi sebentar keluar dengan alasan ada masalah administrasi yang diberitahu oleh Dea. Walau Rosi agak ragu dengan alasanku, dengan berjanji akan sebentar, akhirnya ia menyetujuinya.

Sesampainya aku di kafe yang ditujukan, aku melihat Dea dengan melepas jas dokternya hanya duduk sendirian tanpa adanya Afni.

“Kok sendiri De?”
“Mau aku bawa Afni ke sini?”
“Jangan deh.”
“Kamu nabrak anak itu?”
“Iya kemaren, gak parah kan sakitya?”
“Untungnya sih enggak. Coba aja parah, bisa dipidana kamu Ndra. Kok bisa nabrak sih?” pertanyaan Dea membuat aku mengetahui kalau Afni tidak cerita apapun ke Dea.
“Eh, ditanya malah bengong.”
“Eh iyaaa.. lagi banyak pikiran aja kok.”
“Afni?”
“Hmmmm….”
“Sayangnya aku juga belum bisa dapat cara buat jelasin ke Afninya Ndra. Maaf yaaa.”
“Its ok De. Kamu mau bantuin aku aja, aku udah senang.”

Sebenarnya, aku mengabulkan isi BBM Dea tadi ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Afni dan Fano, tapi nampaknya Dea tidak mengetahuinya atau menyembunyikannya. Jadi, aku urungkan niatku untuk membongkar apa yang ada dipikiranku.

“Ndra, kamu kok diam. Pesan dong, temani aku makan. Masa aku makan sendiri.”
“Maaf ya De, aku tu tadi alasan Cuma bentar ke Rosi. Ntar dianya curiga.”
“Hahahaha.. curiga? Emang kita ngapain? Cuma makan aja kok. Atau kamu mau yang lain?”
“Yaaa.. gak sekarang juga lah De.”
“Hahahaha.. udah aku rekam lho, jadi kamu harus tepati apa kata kata kamu tadi ya.”
“Rekam?”
“Hahahaha.. kamu kok polos ya, beda kalau udah hmmm.. ganas”
“Apaan sih De. Tapi iya kamu rekam ya tadi? Hapus deh.”
“Hahahaha…”
“Kok ketawa sih De.”
“Aku rekamnya di sini.” Sambil Dea menunjuk kepalanya.
“Kirain.”
“Jadi gak makan nih?”
“Lain kali aja ya De. Kasihan Bella seharian di sini.”
“Iyaaa iyaaa.. ayah yang baik yaaa.. coba anak anakku punya ayah seperti kamu.”
“Pasti dapat yang lebih dari aku kok De.”
“Semoga aja deh, tapi zaman sekarang susah juga sih carinya. Mungkin kamu aja di kota ini.”
“Gak segitunya juga lah De. Eh, aku balik yaaa.”
“Jadi Cuma buat janji aja sama aku nih.”
“Gak enak aja kalau udah di ajak gak pergi De.”
“Hahahahaha… pantas si Afni susah lupain kamu ya. Gak salam buat Afni?”
“Gak usah deh.”
“Hahahaha… Salam aja deh buat Rosi ya.”
“Sip… aku duluan ya.”

Aku yang meninggalkan Dea sedang makan tersebut berjalan ke ruang Keyla di rawat. Kasihan Rosi dan Bella sudah beberapa jam disini menemani Keyla. Bella yang mungkin kelelahan bermain sama Keyla dan tidak baik anak kecil lama lama di Rumah sakit juga. Sesaat hendak lift yang hendak tertutup, aku melihat Fano diantara orang yang memasuki lobby rumah sakit itu. Jadi perkataan Via itu betul. Aku yang tidak ingin diketahui oleh Fano, langsung memencet tombol untuk menutup pintu lift tersebut.

Sesampainya aku kembali di ruangan Keyla yang ternyata sudah ada orang tua Keyla dan Agung, aku langsung meminta izin untuk membawa Rosi dan Bella untuk pulang.

“Kak Key, Bella pulang dulu ya.”
“Iya sayang. Kak Indra, boleh gak, Bella kesini lagi esok?”
“Bukannya abang larang Key, tapi kan Bella masih kecil, kasihan ke rumah sakit tiap hari. Lagian kamu kan besok udah boleh pulang. Keyla mainnya di rumah abang aja ya sama Bella.”
“Jadi Key boleh ke rumah kakak.”
“Ya boleh lah, kan kamu kakaknya Bella.” jawab Rosi.
“Makanya, kamu cepat sembuh. Gak mau lama lama disini juga kan?” tanyaku yang sudah menggendong Bella.
“Gak kok kak. Bella, sini cium kakak dulu.”
“Kamu cepat sembuh ya Key, kakak tunggu di rumah lho kalau udah sehat.” Jawab Rosi disaat Bella sedang dicium Bella yang masih aku gendong.

“Ibu, maaf saya harus duluan, kasihan Bella” kataku ke Ibunya Keyla.
“Iya Ndra, makasih ya. Kasihan juga tuh, Bella nya udah ngantuk.”
“Sama sama Bu, Gung, gantian ya.”
“Sip kak. Makasih lho kak.”

Disaat aku membuka pintu ruangan Keyla hendak pulang, aku dikejutkan oleh Fano yang terlebih dahulu membuka pintu itu. Aku yang masih menggendong Bella langsung sedikit menarik tangan Rosi untuk bergegas meninggalkan ruangan.

“Ndra, sabanta.” (Ndra, bentar)
“Bella lah ngantuak. Duluan dih.” (Bella udah ngantuk nih. Aku duluan ya) jawabku.

***

“Kok kamu diam sih yang. Pasti kamu Tanya soal Fano ya?” pertanyaanku yang melihat Rosi hanya diam memangku Bella yang sudah tertidur di mobil ini hanya dibalas anggukan oleh Rosi.
“Fano itu teman abang dari kecil seperti Rima. Dan dia juga teman ngeband abang, nah, kami bubar karena beda pendapat gitu. Abang gak mau aja dia bahas apapun di waktu yang rasanya tidak tepat ini. Apalagi di depan Bella dan kamu yang tidak ada kaitannya dengan itu.”
“Yakin itu aja? Kok Rosi rasa ada yang lain deh”
“Kamu percaya sama abang kan?”
“Percaya sih, tapi keliatannya Fano orang baik kok.”
“Rasanya bang gak pantas cerita masa lalu bang yang buruk ke kamu apalagi ada Bella. bang gak mau Bella tahu, kalau ayahnya dulu nakal. Dan, abang akan berjanji bakalan cerita bahkan kenalin semua teman dan masa lalu abang ke kamu.”
“Semuanya?”
“Iyaaaaa. Bang janji”
“Maafkan Rosi ya yang, gak percaya sama abang.”
“Iya sayang. Salah abang kok”
“Jadi sekarang gak nakal kan?”
“Gak lah, bang akan berusahan jadi ayah yang baik kok untuk Bella. dan,”
“Dan apa?”
“Akan selalu berusaha untuk menjadi suami terbaik kamu sayang.”

Bersambung

Daftar Part