. Cinta yang Liar Part 17 | Kisah Malam

Cinta yang Liar Part 17

0
125

Cinta yang Liar Part 17

Dimalam ini, di desa banyu abang yang sangat dingin dan membuat semua bulu kuduk berdiri. Lelap tidurku dengan gangguan pada ketukan pintu, membuatku tersadar dan terbangun dari mimpi basahku eh mimpi indahku. Perlahan dengan perasaan yang sangat malas dengan mata yang enggan untuk terbuka ku angkat tubuhku yang sangat berat ini dari tempat ternyamanku. Terasa beban tubuh in imenjadi 1 ton, sangat berat. Ku letakan satu tanganku di daun telinga eh daun pintu.

Kleeeeek….. suara daun pintu dan terbukalah pintu itu

“AAAAA” aku sedikit berteriak terkejut yang tertahan dengan apa yang didepanku

Tampak seorang wanita dengan kulit putihnya memakai jarit yang hanya dililitkannya di sebagian tubuhnya hingga menutupi pahanya. Rambutnya digelungnya ke belakang, tampak senyuman seorang wanita yang manis dan menentramkan. Sekilas tampak bayangan Ibu terlukis di wajah wanita ini. membuat aku tersentak dan terhenyak kaget seketika itu. Tapi bayangan itu mulai pudar seperti tinta spidol yang terkena oleh air, bayangan itu menghilang dan berganti dengan wajah seorang waria eh wanita desa, Mbak Maya.

“Mbak….” ucapku terheran-heran dengan kedatangannya di malam hari ini

“Sssst hi hi hi… udah mbak kunci semua pintu rumah, dari yang depan sampai belakang ini kuncinya” ucapnya sambil menunjukan kunci pintu rumah.

“Maksudnya mbak? “ tanyaku pura-pura bodoh, ya sebenarnya posisi saat itu belum bisa membuat otakku berpikir jernih karena rasa kantuk yang menusuk di mataku.

“Eh… sepi tuh di depan kamar mas, asyik tuh kalau main di depan” ucapnya tiba-tiba membangkitkan gairah dedek arya. Sekejap dedek arya menangkap sebuah sinyal permainan, perlahan bangkit seperti halnya zombie yang bangkit secara perlahan-lahan tapi pasti. Nafsuku yang sudah mulai bangkit dan menyelubungi tubuhku ini, aku kemudian menarik mbak maya ke depan teras yang tak berlampu.

“Eh… mas mau kemana? Di dalam saja, mbak kan cuma bercanda” ucapnya

“Salah siapa tadi mengajakku ke teras kamar” ucapku

Dalam posisi duduk di depan teras kamar, langsung aku peluk mbak maya, ku hujamkan ciumanku di bibir manisnya. Mulutnya tertutup, wajahnya ketakutan karena aksiku bisa saja diketahui oleh orang sekitar. Tapi masa bodohlah, aku sudah tidak bisa menahan apa yang namanya keinginan dedek arya.

“Mbak kok ditutup mulutnya?” ucapnya kepadaku

“Di dalam saja mas, takut ada orang” jawabnya sembari mencoba melepaskan pelukan dariku

“Tadi katanya minta diluar, tadi katanya orang kota bisa gaya-gaya, pengen tidak? Kalau tidak sudahan saja” jawabku, entah kenapa jiwaku seakan-akan berubah menjadi seorang pecinta seks, semoga saja hanya hari ini karena memang sudah berbulan-bulan aku tidak memegang namanya wanita.

Mbak maya kemudian dengan sedikit malu mengangguk dan membuka sedikit mulutnya. Ku hujamkan kembali bibirku ke mulut mbak maya, kumasukan lidahku ke dalam mulut mbak maya dengan perlahan. Kusapu tiap nano meter bibirnya dengan lidahku, mbak maya hanya membukan mulutnya tanpa bisa memberi perlawanan. Udara dingin membuatku, memaksaku untuk segera mendapatkan kehangatan dari tubuhmbak maya. Perlahan mbak maya mulai mengimbangi ciuman di bibirku, disedotnya lidahku dengan bibirnya. Membuat nafsu ini semakin meledak-ledak. Dengan tetap menium bibirnya, kurebahkan tubuh mbak maya di atas lantai yang keras ini. Perlahan ciumanku turun ke lehernya dan kusapu habis dengan jilatan-jilatan pada bagian leher jenjangnya itu.

“eehh…. ehhh…. esssssshhhhhh… pel… lan mashhh gelihhhh….”

“Geliiihh… mashhh…. ouwhhh…. essshhhhh aaahhhhhh” rintihnya

Aku tak menghiraukan lagi apa yang dia katakan, jilatan dan ciumanku kemudian turun ke bagian atas dadanya. Kujilati setiap bagian itu layaknya aku menjilati es krim. Jilatan semakin turun hingga belahan susu mbak maya yang indah ini. pelan tapi pasti ciuman dan jilatanku di sela-sela belahan itu membuat mbak maya menggelinjang geli dan nikmat. Tangan kiriku menelusup di balik punggung mbak maya, tangan kananku kemudian menarik dan melepas secara perlahan jarit mbak maya. Secara bergantian tangan kanan dan kiriku menahan tubuh maya, karena jarit itu dipakai dengan cara membungkus tubuhnya jadi ketika tangan kananku sudah mulai melepasnya dan aku putar kebelakang tangan kananku langsung menahan tubuh mbak maya dan giliran tangan kiriku menarik jarit itu. Secara perlahan dan bergantian akhirnya jarit itu terlepas dari tubuhnya, aku langsung buang jarit itu ke depan kamar yang aku tempati. Terpampanglah tubuh montok dengan payudara yang lumayan besar dihadapanku.

“Mas, jangan cuma dilihat dicicipi juga mas….”

“Apa perlu pakai kopi hitam biar tambah nikmat?”tanya mbak maya menggoda, godaan ini lebih dahsyat dari pada godaan Tante Ima apa lagi wajah lugu desanya itu yang membuatku semakin bernafsu.

“Tidak perlu mbak, susu mentahnya juga enak…” ucapku yang langsung memajukan kepalaku

Dengan penuh gairah aku mainkan susu mbak maya dengan menggunakan metode yang sama. Aku elus-elus sekitar puting mbak maya dengan lidahku dan susu satunya aku elus-elus dengan menggunakan jari-jariku. Lama aku melakukannya dengan memutari setiap puting susunya dengan lidahku dan jari-jariku secara bergantian.

“Mashhh, di susuhhh mashhh susuhkuuhhhh aehhhh, cepetanhh…” rintihnya penuh nafsu. Aku tidak langsung mengikuti arahan mbak maya tapi aku menggigit kecil pada susu kanannya. Tercupanglah susu kanan mbak maya, kupindahkan bibirku ke susu kirinya dan kucupang kembali.

“Aashhhhhh sakit mashhhh enakkkkhhhh… lagih mash oiwh lagihhh….” rintihnya kembali sambil memandang ke arah aksiku

Setelah aku mendapatkan dua cupangan yang sangat merah, langsung aku lahap pentil susu kirinya. Kumainkan lidahku di susu kirinya dan jari tanngan kananku mempermainkan pentil susu kanannya. Tangan kiriku tak cuma diam saja, tangan kiriku meremas-remas daerah di sekitar susu kirinya. Seecara bergantian aku melakukan hal itu dan membuat mbak maya merintih-rintih dengan sedikit berteriak yang tertahan

“aaaaaahhhhhhhfffftttt…….”

“Enak mashhhh ter…..rushh….. ashhhhhh…..”

“Di mimikhhh mashh….. ahhhhhhhhhhh” hanya rintihan dan desahan yang aku dengar dari mulutunya.

Segenap kekutan aku lakukan tapi aku sudah tidak tahan lagi aku ingin menuju ke arah selangkangan yang indah itu. Jilatanku ku arahkan di lebah susu mbak maya turun…. turun…. dan turuuuunnn…. kurenggangkan kedua paha indah nan putih itu dan terbukalah sebuah liang kenikmatannya. Perlhan aku majukan bibirku dan kujulurkan lidahku. Llidahku menyapu bagian bawah vagina mbak maya hingga keatas bibir vaginanya. Dengan perlahan aku bolak-balik menyapu vagina mbak maya.

“Aaaaaah…. mashhhh…. “

“emmmmhhhhh…. teruuuuussssssshhhhh….”

“dijilat yang dalem mashhhhh aisssshhhhh……”rintihnya

Lidahku ini kemudian menyeruak ke dalam vagina mbak maya dan kupermainkan di dalam vaginanya. Pinggul mbak maya terangkat keatas membuat aku semakin bersemangat memainkan lidahku di dalam vaginanya.

“Ahhh… mash… kok tambah enak gini… ahhh… tempikku keenakan mashhh ouwhh… jilatiiiihh yanggg kerassssh… anget bangethhhh masshhh lidahh muwhh ouwhhh aisssshhhhh….”

“Terus mashh…. ash ah ah ah aaaaaaahhhhh” Rintihnya kembali

Aku kemudian memasukan jariku, dan bibirku ku alihkan ke klitorisnya. Kusedot-sedot dan kumainkan klitorisnya dengan bibir dan lidahku. Jariku masuk menyeruak dan mengocok vaginanya. Paha kiri mbak maya aku letakan di atas bahu kiriku jadi aku lebih leluasa dalam menikmati vaginanya. Lama aku bermain disitu membuat mbak maya tidak tahan dengan kenikmatan itu.

“ter….rushhh.. masshh….tempikku enak mas…. jilati terussh mashh… aku suka kamu jilatih ouwhhh … jilatanmu enaaaakkkhhh…. itilku… itilku aissshhhhh sedoooth terusss mashhhh….. enaaakhh bangeettthhhh aah eeeeh oooogggh aaah aaisssssssssssssssshh… kocok kerrrrrassss mashhh… ouwhhh enakkhhh essshhhhh….. ediaaaan enaaak mashhhh….”

“Akuhh… mauhhh kel…. luarhhhh aaaahhhhh”

“aku keluaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarr….. ahhhhh…. kontol kontooooooool aku pengen kontolmuhhhhhhhhh massshh aryaaaaaaaaaaaahhhh….” teriak mbak maya sembari mengangkat pinggulnya keatas, menggelinjang. Kurasakan cairan kenikmatan itu mengalir melalui jariku segera aku menangkap pinggul mbak maya dan kusodorkan bibirku ke vaginanya serta kuhisap cairan kenikmatan itu. Setelah mbak maya terlihat lebih tenang akhirnya aku memberinya waktu beristirahat.

“Hash hash hash hash… enak mas hash hash”

“Belum pernah mbak maya merasakan sehebat ini, tadi siang hash hash hash juga sama….”

“Istirahat dulu mas” ucapnya dengan tubuh telanjang yang tergeletak lemas di depan kamar, aku hanya tersenyum kepadanya. Kulihat dunhill masih tergeletak di depan kamarku. Kuraih dan kuhisap sebatang dengan posisi menyamping mbak maya. Kulirik dia masih terpejam dengan nafas yang sangat kelelahan. Kujulurkan kakiku kebawah teras kamar ini, karena kamar ini memang di buat aga sedikit meninggi dari area sekitarnya. Lama aku menikmati dunhill mild hingga setengah batang telah menjadi abu.

Mbak maya bangkit dan jongkok di depanku, dilepasnya celana kolorku. Toeeeeeennnggg….”Aku bebaaaaaaaaaaaaaas” dedek arya. Aku melihat tingkah mbak maya hanya tersenyum. Elusnya secara perlahan dan tenang dipandanginya dedek arya dengan seksama.

“Gede ya mas, pasti banyak yang suka ini mesti” ucapnya

“Dari sananya mbak, kalau banyak ya saya tidak bakalan sama mbak maya” ucapku sedikit cengengesan

“jadi yang suka sedikit ya mas?hi hi hi untung saja sedikit kalau banyak mbak tidak kebagian”

“Hmmm…. Kemarin mbak maya sudah kasih kopi, hari ini susu, sekarang mbak maya mau permennya mas Arya” ucapnya sedikit nakal dengan meliriku yang sedang menikmati batang dunhill di tangan kananku

Tak main-main, bibir tipis mungil mbak maya langsung melahap dedek arya dengan perjuangan yang sangat berat. Terlihat mbak maya mencoba memasukan semua batang dede arya tapi tak mampu, dengan masih menyisakan sedikit batang yang tidak terkulum mbak maya memaju-mundurkan kepalanya dengan sapuan lidah disetiap batang dedek arya. Dengan bertumpu pada tangan kananku, tangan kiriku megelus rambut mbak maya dengan lembut. Terlihat sosok wanita berumur 30 tahun dengan tubuh telanjang sedang menikmati batang permenku, batang dedek arya Sesekali aku menekan kepala mbak maya lebih dalam ke arah dedek arya.

“Hah hah hah hah hah… mas jangan ditekan, kontolnya itu panjang besar, bisa tersedak mbak” protesnya yang ketika aku menekan kepalanya kemudian meronta dan melepaskan kulumannya

“Sabar kenapa… nanti juga dapat yang lain hi hi hi” lanjutnya dan kembali mengulum batang dedek arya kembali

“Ehmmmm…. iya mbak…. oufthhhh…. terus mbak…. nikmatihhhh…. emuthh mbak essshhh ehmmmm… ayohh mbak emuttthhh kontolku, kulum emuthhhhhh” rintihku, kemudian aku angkat tangan kananku dan aku hisap dunhill yang tersisa kemudian aku membuangnya. Dan kupegang kepala mbak maya dengan kedua tanganku. Lama dia mengulum dan menikmati sensasi permainan di alam terbuka. Aku kemudian menarik kepalanya

“Mbak dijilati mbak kontol arya” ucapku, langsung dia memegang batang dedek arya di tekan ke atas perutku dan di jilatinya dari bawah. Membuatku merebah dengan bertumbu pada kedua siku tanganku.

“Mbakhh…. dijilat dibawah telurku mbakkhhh akkhhhh” rintihku, dengan sigap mbak maya menjilati bagian bawah akarku kadang mengulum-ulum zakarku dengan bibir manisnya itu. Kepalaku menengadah keatas dan membuat sensasi yang lebih dahsyat lagi. Beberapa menit setelah itu mbak maya bangkit dan berdiri dihadapanku, kupandang tubuhnya dengan senyum nakalku.

“Mas, ayo dimasukin mbak sudah pengen…” ucapnya kepadaku

“Ya dimasukan to mbak” jawabku

“Lho, ya mas yang masukin kok malah saya itu bagaimana?” balasnya memelas kepadaku

“Sini, mbak sekarang mbak jongkok di atas kontolku dan dimasukan” ucapku

“Lho kok malah saya yang diatas mas?” tanyanya

“Katanya pengen gaya-gaya…”ucapku dengan senyuman nakal yang kemudian menarik tubuhnya ke arahku. Kukulumi kedua susunya dan kemudian aku arahkan dia untuk jongkok di atas dedek arya.

“Mbak, kontolku di pegangi mbak biar pas masuk ke tempik mbak maya” ucapku, mbak maya yang sekarang dalam posisi jongkok kemudian dengan tangan kanannya memegang dedek arya. Diarahkannya dedek arya ke dalam liang senggamanya. Perlahan secara perlahan sensai kejepit aku rasakan dari seiap nano meter batang dedek arya.

“Oefthhhhh…. besar mas, susssaaaahhhhhhh…. kontol kontolmu geddddehhhh ouwhhhh… tempikku gak muathhhhhh asssshhh ehmmm aduuuuhhhh aaaahhhhh”

“Oufth… mas mbak ndak khuuuuaaaathhhh… ni kontolh apa teroooongghhhh aaahhh… sobek vaginaaakuuuhh masssshhhh ouwhhhh…” rintihnya yang kemudian dia memeluk kepalaku. Terlihat wajahnya meringis kesakitan dan batang dedek arya sangat pelan sekali masuk ke dalam vagina mbak maya.

“Aduh mash… ini kontol apa terong mashhhh aufthhh….”

“sakiiith masssshhhh…. ahhhhh…..” setiap rintihan dari mulutnya beriringan dengan tenggelamnya dedek arya dalam vaginanya

“Tapi sukakan mbakhhh…aaaaahhhhh?” ucapku kepada mbak maya, mbak maya hanya mengangguk dan terus mencoba menekan masuk dedek arya ke dalam vaginanya yang sempit dan sedikit agak keset, mungkin karena cairannya sudah mulai mengering. Dan bleessssss…..

“Uedian tenan mas hah hah hah hah…. kontol mas arya dalem banget terasa… nyampe rahimku mashh… ehmm … kamu yang pertama mas nyampeh situh aaaaah….” ucapnya tersengal-sengal sambil sedikit melonggarkan pelukannya dan memandangku dengan wajah ngos-ngosannya.

“Ayo mbak digoyang…” ucapku menggodanya

“Digoyang gimana mas, goyang kontol ndak papa mas, ini terong mas… gede, ndower tempikku mash hash hash hash…” balasnya

“Ya sudah, mending selesai sekarang saja mbak…” godaku kepada mbak maya

“Jangaaaaaaaaan maaaaaaaas, biar didalem dulu, enak ini… mas ndak punya tempik jadi ndak bisa ngrasain enaknya dimasuki kontol terong hihihihhhh” ucapnya sedikit tersengal-sengal

Aku masih menunggunya untuk beraksi, lama aku menunggu tapi tak ada aksi dari mbak maya. Dengan sedikit memaksa aku angkat tubuh mbak maya dan aku turunkan kembali. Mbak maya kaget dengan aksiku kemudian meyuruhku diam. Mbak maya mulai memompa perlahan tubuhnya, perlahan dan perlahan. Goyangan itu semakin lama semakin cepat dan menggila. Aku hanya tetap duduk dan bersandar pada kedua tanganku. Pandanganku terhalang oleh kedua susu besar mbak maya ini yang terguncang naik turun seperti piston pada iklan motor.

“Aduuuhh…. kontol… kontoollll mu enak mas…. nyampe daleeemmhhh ouwhhh… kontolh ah terongggh aissshhh… dalem bangethhh… ooooh…. duh mak’e pak’e… aaaahhhh…. tempikku sobeeekkkk aaaahhhhhh”

“Kontolmu enak tenaaaaaaaaaaaaannnhhhh aaaah aaaaaaisssshhh oufthhhh… enak banget ouwh enak banget… ouwhhhhh yakin msh enake puolhhh mass….. aaaaaah”

Semakin cepat dia menggotang, erangan kenikmatan semakin keras terdengar. Semakin erat pula pelukannya di kepalaku membuat aku sulit bernafas karena tersumpal oleh susu indahnya ini.

“Haduh mash mash….ahhhhhh…. baru inighhhh…. ahhhhh… tempikku keenakan mashhh…”

“enaakhhh tenaaaaaaanhh rassanyaaahhh… aaahh… uenakkee puoollllll aishhh…. ouwhh oggghhhh… edan aku kedanan kontolhhh mashhh aryahhhhh aaaaaaah” (Kedanan=tergila-gila)

“Terus mbak, enakh TEMPIKMU ENAK MBAK! Ouwhhh… tempikmu nyepit kontolku… aaahhhhh… enak mbakkhhh…” teriakku yang terhalang oleh susunya, membuat mbak maya semakin mempercepat goyangannya.

“Aku lonthemu mashhh aaahhh… aku mau kamu kenthuuuu setiaphhh hariiiih ahhhh…. enakhhh tenanhhhh aishhhh ouwhhhh…. dalem banget… tempiikku dag gak kuatttthhhhh aaaaahhhh…”

“Mas, aku mau keluarhhh….. ooouwwwwwhhhhh… aku mau keluarhhhh… kontolmu buat aku keluarhhhh aaaaaahhhhhhh”

“Aisssh… ah ah aaaaaaaaaaaahhh……”

“KONTOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOLLLLLMU ENAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKK” teriak mbak maya seakan-akan tidak mempedulikan lagi sekitarnya. Bersama dengan teriakkannya terasa air hangat mengalir di sela-sela vaginanya membasahi batang dedek arya. Mbak maya kemudian memelukku dengan sangat erat membuat aku semakin gelagapan untuk bernafas, bagaimana tidak? susu gan susu suhu nempel di wajah kamu menyumbat hidung kamu. Aku mencoba untuk bertahan dengan tidak bernafas cukup lama dan akhirnya longgar juga pelukan mbak maya. Butiran-butiran debu ehb butiran keringat mengalir di sekujur tubuhnya seakan-akan habis lari berkilo-kilo jauhnya. Aku melihat mbak maya sedikit ngos-ngosan tidak membuat aku merasa iba terhadap dirinya. Segra aku turunkan dari pangkuanku dan aku arahkan mbak maya untuk menungging sambil berdiri. Ketika aku mengarahkan tubuh mbak maya tangaku menyenggol dan memukul dunhil yang didalamnya ada koreknya aku tidak begitu mempedulikannya. Kemudian Kedua tanganya memegang tiang di depan kamar ini (kamar belakang mempunyai teras sehingga ada sedikit atap yang mempunyai tiang). Aku dan mbak maya sekarang sama-sama berdiri di atas tanah.

“Mas, hash hash hash hash ini apa laghi? Aku ndak kuat hash hash hash” ucapnya sedikit tersengal

“Katanya pengen gaya? Atau udahan saja mbak?” ucapku dengan senyuman nakal, entah sekarang aku menjadi sedikit berani dalam berkata-kata. Mbak maya menggelengkan kepalanya.

“Terserah mash aryah hash hash pokoknya aku nurut mash mau diapakan sajah hash hash hash.. jadi lonthemu aku juga mauh mashhh… enak owk… hash hash hash….” ucapnya tersengal-sengal

“Kalau lonthe enggak mbak, aku pengennya mbak maya jadi wanita lemah lembut yang nurut sama aku” ucapku sedikit nakal ke mbak maya

“Iya… mashhh terserah mash aryahhhh….” balasnya

Perlahan aku pegang pantat indah mbak maya dengan perlahan dan lembut. Kubuka sedikit dan kumasukan dedek arya ke dalam vaginanya. Tiba-tiba tangan kanan mbak maya memegang dedek arya dan mengarahkannya. Dan blesss… masuklah dedek arya kedalam rongga kenikmatan mbak maya. Perlahan aku tekan dedek arya ke dalam dan lebih dalam membuat kepala mbak maya terdongak keatas dengan mata terpejam. Akupun mulai menggoyang dengan penuh semangat dengan kedua tanganku berpegang pada pinggang mbak maya.

“Aiiishhh ah ah ah ahaffttttttthhhhh oueh ouoh ouh ouwwwhhh….”

“Terushh mas enak…. kontol mas enak…. dalemmmhh bangethhhhh oufthfttffffffhhhhhhh… kenthu aku mash…. ouwhh… kenthu aku… ouwhhggghhh yang dalemmm massshhhh….” rintihnya

“Tempik mbak maya juga enakhhhh ahhhhhhhhhhh tambah sempithhh aaaaahhh” ucapku

Tiba-tiba terbesit rasa kangen terhadap Ibuku, bu dimana Ibu sekarang, aku benar-benar kangen. Setiap aku melakukannya dengan wanita selain Ibu aku kurang bisa menikmatinya walaupun sebenarnya aku butuh. Kucoba melupakan apa yang terbesit di dalam pikiranku, kucoba konsentrasi untuk memuaskan wanita yang sedikit berubah menjadi liar ini. kugoyang semakin keras dan semakin cepat, membuat mbak maya semakin merintih kenikmatan karena dedek aryaku.

“Aaah aaah mashhh…. terussshhh mashhh…. kocok tempikkuhhhh enaaaaakkkhhhh ouwwwhhhh… ya gitu mashhh teruuussssshhhhh…. tempikku keenakannnnhhh ahhhhh… ”

“Kontol mash Arya enak… ouwwwwwwwwwhhhhh…. nusuk dalem banget tempikku uwenaaakkk aaaakkkhhhhh….”

“Tempiku enak di goyang mas Aryyaaaaaaahhhhh….ouefth… aisshhhhh…. aku pengen dikenthu teruusssshh….ouuwwhhh… kenthu… enakk kenthu sama mas aryyaaaaaaaaahhhh….”

Aku hanya terdiam dengan nafasku semakin tersengal-sengal. Mendengar rintihan mbak maya semakin meracau, dengan sigap aku membungkuk dan memeluk mbak maya dengan kedua tanganku meremas susu mbak maya. Memang ketika dalam posisi ini hentakanku kurang begitu keras tapi aku tak tahan melihat susu mbak maya yang terlihat dari samping walaupun terlihat sedikit itu hampir jatuh. Kupeluk erat tubuhnya dengan kedua tangan meremas kedua susunya.

“Ayo mashh ter….rushh…. ahhhhh”

“Kenthu…. kenthuuuuhhhh… tempikkuhhh mashhhh….”

“Aku pengenhhh mbokhhh kenthuhhhhh ter…russsshhh aahhhhhhh”

Lama aku menggoyang tampak tubuh mbak maya semakinliar bergoyang ke kanan dan kiri. Kulepaskan pelukanku. Kupegang pinggang mbak maya, ku hentakan lebih dalam dan lebih keras lagi. Mbak maya hanya menjerit nikmat.

“aaaaaaaaaaaaaahh aaaaaaaaaaahhh……”

“kontol enaaaaaaaakkkkhh…..” rintihnya semakin gila dan liar

“aa…..akkkk…kuh…. maa…..auh….kel…ah ah ahha… luar mashhh…..”

“lebihhh kencenghhhh aaaaaahhh……” rintihnya menuju puncak, aku hanya mampu menengadah keatas sambil terus menggoyang menikmati setiap sensasi yang diberikan oleh vagina mbak maya.

“aaaaaaaaaaa……aaaaaaaaaaaaa……ufthhhhhhhhhhhhhhhh”

Terasa lilnangan air hangat dari vagina mbak maya, tampak mbak maya kemudian menghela nafas yang panjang. Aku berhenti sejenak, mbak maya kini mencoba berdiri aku memeluknya dengan sedikit membungkuk dengan posisi dedek arya masih tertancap didalam vaginanya. Mbak maya kemudian menoleh kebelakang dengan mulut terbuka langsung aku daratkan ciuman pada bibir manisnya.

“hmmmm….mmmmm… mas enak…. mas, bapak ma suamiku ndak pernah bisa buat aku gila seperti ini” ucapnya lirih

“Mbak, lagi ya….” ucapku penuh harap agar aku bisa segera selesai, mbak maya hanya menganggukan kepalanya saja. Kutarik tubuh mbak maya ke tengah-tengah diantara kamar dan kamar mandi secara perlahan dan tetap aku cium bibirnya tanpa harus melepas dedek arya. Kuarahkan pandangan mbak maya menuju sawah dan bebukitan yang pernah aku lihat ketika aku pertama kali berada di belakang rumah pak roto ini. Dengan segera karena aku sudah sedikit merasakan sensitif pada ujung dedek arya, aku posisikan mbak maya agak sedikit menungging dan kedua lengannya aku pegang dengan kedua tanganku.

“Mbak, belum pernah main sambil lihat pemandangan kan?” ucapku

“Belum mas, mas arya bener-bener buat mbak gila, ini pertama kalinya mas” jawabnya

Tanpa babibu langsung aku menggoyang tubuh mbak maya dengan sangat keras. Pada goyangan pertama aku hentakan dedek arya dengan sangat keras kemudian aku memaju mundurkan pinggulku dengan secepatnya agar aku bisa mendapatkan puncak kenikmatan.

“Aisshhhh… teruuusssshhhhhh terusssshhhh mas…..”

“Enakkhhhh aish ufthh…. tempiku keenakkkkkhhhhaaaannn aaaahhhh… kontolmuwh aahh aahh aahh aku cinta kontolmuwh massshhhhh…”

“Kontolmu bikin ngilu tempekkkuuuuhhh masshhhh aaaaaaaaaaaaahhhhhh”

“Aku meh methu maneh mashhhhh (Aku mau keluar lagi)…. aduhhhh aishhhhh aftttthhhh aaaaaaaahhhhhh”

Aku semakin menggila kurasakan denyut nadi dedek arya berdetak semakin keras. Kupercepat goyangan pada pinggulku, semakin cepat dan cepaaaaattt! Ya harus cepat, aku sudah tidak tahan, aku ingin segera mengeluarkannya di tempik wanita ini, wanita pemuasku ya aku harus segera mengeluarkannya! Ibu aku kaengeeeeeeeeeeeeen banget sama Ibu…..

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh………….” teriak mbak maya

Crooot crooot crooot croooot crooot crooot croooot crooot crooot croooot crooot crooot croooot

Dan keluarlah lahar panas dari dedek arya meledak membasahi vaginanya, mebasahi rahim mbak maya. Aku kemudian kembali memeluknya dan kuposisikan mbak maya sedikit berdiri. Kedua tanganku meremas susu mbak maya dan aku menciumnya. Mbak maya yang tidak kuat lagi akhirnya roboh jatuh ke bawah dengan posisi seperti orang merangkak.

“Hah Hah Hah mas… baru kali ini enak banget hash hash has….” ucapnya lirih, kulihat dedek arya masih menegang dengan sisa cairan yang mengalir di batangnya dan sedikit dari lubang kencingnya

“Mbak dibersihkan pakai mulut mbak…” ucapku kepada mbak maya, tanpa menjawab mbak maya kemudian bangkit dan berlutut dihadapanku. Kemudian dia mulai menjilati sisa-sisa cairan kenikmatan kami di batang dedek arya, aku masih berdiri dan menyaksikan itu seakan-akan tak percaya bahwa selama ini sudah ada 3 wanitab takluk olehku tanpa aku meminta mereka melayaniku.

“Mbak, tadi keluar di dalam, mbak ndak takut hamil hash hash hass” ucapku sedikit tersengal

“Malah aku pengen dihamili mas arya hi hi hi” ucapnya sambil menghentikan sejenak jilatannya

“Waduuuuuuuhhhhh…..” ucapku, memang sudah tergila-gila sama dedek arya mungkin mbak maya sampai bisa bilang seperti itu.

“mbak… ndak takut ketahuan tadi teriak keras-keras…” ucapku lirih

“Dah terlanjur mas, kalau ketahuan ya mau gimana lagi mas, lagian ini malam hari tadi mbak maya kesini juga sudah jam 12 malam, orang sudah pada tidur sekalipun dengar ya paling mereka anggapnya tetangga lagi main hi hi hi hi hash hash hash has” ucapnya kemudian mengulum batang dedek arya

Aku masih berdiri dan kulihat dunhill tergeletak, dengan sedikit membungkuk aku kemudian ambil dubhill yang didalamnya sudah ada korek itu. Kusulut satu dan ku jatuhkan lagi. Sambil berdiri dan merokok dunhill kupandangi sawah, bukit dan bulan yang bersinar terang itu. Dengan posisi itiu aku merasa semakin gagah karena ada seorang wanita yang sedang mengulumi, menjilati dan membersihkan dedek arya hingga dedek arya tertidur dalam lelapnya. Aku gagah dengan sinar rembulan menyinari kami berdua.

Mbak maya kemudian bangkit dari berlututnya, rokok dunhill telah habis. Dia kemudian memelukku dengan wajah manjanya dia minta bibirnya dipuaskan oleh bibirku. Lama kami berciuman lama kami berpelukan, kami pun menyudahinya. Kugendiong mbak maya untuk aku kembalikan ke dalam rumah tak lupa mengambil jarit yang dia pakai sebelumnya. Aku berjalan dengan menggendong mbak maya ke pintu belakang. Kemudian mbak maya membuka pintu dengan posisi masih aku gendong

“Mas, aku diantar sampai kamar ya?” ucapnya dengan kecupan, aku hanya mengangguk dan kuantar sampai kamarnya

“Mbak, lha isti kemana?” bisikku

“Aku titipin sama mertua mas” ucapnya sambil aku merebahkan tubuhnya

“makasih ya mas, kalau mas mau lagi tinggal bilang mas, biar mbak maya semakin rajin merawat tubuh hihihi” ucapnya lirih, aku kemudian bangkit untuk meninggalkan mbak maya

“Mas salam perpisahan dulu sama kontol mas” ucapnya, dan sedikit menarik pinggangku, mbak maya mengulum dedek arya yang sedang tertidur

“Sudah mbak jangan lama-lama nanti bangun lagi he he he” ucapku, ternyata mbak maya tidak melepaskannya dan masih mengulumnya

“Kalau bangun bisa pingsan aku mas hi hi hi” ucapnya, tanpa dia sadari dedek arya bangun kembali

“Aduuuhhh mash kok bangun???” ucap mbak maya

“Sudah dibilang jangan lama-lama, sekarang tanggung jawab lagi mbak” ucapku sembari naik ke tempat tidur dan memposisikan diriku di tengah-tengah selangkangannya

“Mas, sudah mashhh mbak maya ndak kuat hash hash hash…” ucapnya dengan nafas sedikit tersengal-sengal dan tangannya menutupi vaginanya

“Ssssttt… katanya mau jadi lontheku, ya nurut sama aku to ya…” ucapku sedikit nakal, mbak maya kemudian tersenyum nakal dan membuka kedua tangannya ditaruhnya kedua tangan itu di atas kepalanya.

“Pasrah aku mash… dah ndak kuatt…” ucap mbak maya, aku kemudian memasukan dedek arya, kedua kakinya aku letakan di atas bahuku

“eeeehhhhhhhhhmmmm……….” rintih mbak maya sambil satu tanganya menutupi mulutnya

“Siap mbak?” ucapku berbisik dengan senyuman nakal

“Siap ndak siap kudu siap mas, lha wong sudah masuk ditu terongnya” bisik mbak maya dengan wajah sayu penuh kelelahan, tubuhnya tampak layu dengan butir-butir keringat yang masih tersisa membasahi seluruh tubuhnya.

Aku kemudian mulai menggoyang secara perlahan di vagina mbak maya. Melihat mbak maya yang tampak kelelahan aku memepercepat goyanganku, tangan mbak maya kemudian beralih keselangkanagnya. Mencoba menahan gempuran pinggulku yang memaju mundurkan dedek arya. Buah dadanya tercepi kedua lengannya tampak semakin membusung indah dengan goyangan naik turun yang dia dapatkan dari dedek arya. Wajahnya tampak seperti orang kesakitan, terpejam dan menggeleng ke kanan dan kekiri. Kenikmatan birahi yang dia dapatkan membuatnya menggigit bibir bawahnya. Aku masih menggoyang dengan keringat semakin mengucur, suara decit ranjang mbak maya tidak membuatku menghentikan goyanganku. Aku sudah tidak peduli lagi dengan pak roto yang ada di kamar sebelah, sekalipun aku tidak peduli aku tetap menahan setiap desahan-desahan dari mulutku. Mulut mbak maya terus menggigit bibir bawahnya sambil menahan setiap desahan ingin keluar dari mulutnya.

“ehhhhmmmmmm…. erggghhhhhh…. erggghhhhhh…. erggghhhhhh…. erggghhhhhh….” rintihnya tertahan dengan kepala yang terus bergerak menoleh kekanan kekiri kadang menengadah ke atas

Melihat posisi mbak maya yan hanya bisa memjamkan mata dengan kedua tangan yang seakan-akan menahan laju goyangan pinggulku (walau sebenarnya tidak menahan) dan susu mbak maya yang membusung itu membuat nafasku bertambah terengah-engah. Aku turunkan kaki mbak maya tepat di pinggangku lalu aku memeluk tubuhnya kedua tangan mbak maya kemudian menelusup diantara ketiakku dan memelukku erat. Kepalanya tepat pada bahu kananku, wajahnya sekilas masih tampak menahan jeritan nikmat.

“massshh… mbak dah ndak kuathhhh urggggghhhh….” bisiknya pelan di telinga kananku

“sebentar lagi mbak” ucapku di telinga kanannya sembari menciumnya

Aku tak menghentikan goyangan tubuhku, aku masih memompanya sumur mbak maya ini. aku terus memompa berharap menemukan sumber air yang segera mengucur keluar dari sumurnya. Jepitan kaki mbak maya semakin kencang pada pinggangku, kucuran keringat berjatuhan dari tubuhku dan bersatu dengan keringat mbak maya. Hawa panas tubuh mbak maya sangat terasa dengan bumbu kekenyalan susunya yang menyentuh pada bagian dadaku. Gesekan antar kulit dedek arya dan liang senggamanya sangat terasa llicin dan semakin hangat, otot vagiananya tampak seperti menjepit secara perlahan seakan-akan memberi tanda bahwa sumber mata air itu akan segera muncul dengan usaha memompaku. Desahan tertahan tampak terdenganr ditelinga kananku membuat. Aku menciumi pipi kanan mbak maya yang masih terpejam karena kelakuan nakal dari dedek arya.

“Mashh… sudahhhh aku ndak kuathhh… mauh keluarhhh….” bisikan rintih kenikmatan, kemudian aku menoleh sedikit kerahnya yang masih terpejam karena kenikmatan ini.

“Sama mbak, sebentar lagihhh… hmmmmmerrrrggghhhhh…..” ucapku sambil terus menggoyang. Sementara aku masih menggenjot, tiba-tiba tubuh mbak maya bergerak tak terkontrol, melengking membuatku menghentikan sebentar goyangan pada pinggulku. Kedua kakinya mengapit dan menekan pinggulku sangat keras.

“Aku keluarrhhhhhhhhh… enakkkh mashhh…. aahhhhhhhhhhhh” bisiknya lirih ditelinga kananku

Akhirnya keluar juga sumber mata air itu, Aku yang hampir menuju puncak gemilang cahaya eh menuju puncak kenikmatan itu kembali menggenjot, memompa, menggoyang pinggulku kembali.

“aduuuhhh mashhh sudaaahhhhhh aku ndak kuathhh…..” ucapnya sangat lirih untuk didengar

“Ini sebentar lagihhh………..”

“Aku keluar mbakkkkhhhhh…….” bisikku lirih ditelinganya

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Semburan kenikmatan itu aku keluarkan dalam posisi konvensional yang sangat menggairahkan. kupeluk tubuh mbak maya dengan sangar erat, mbak maya membalasnya dengan sangat erat pula. Aliran nafas kami yang berlomba-lomba mendapatkan oksigen seakan-akan bersatu untuk saling memberi kehangatan. Kupeluk tubuhnya erat, aliran butir-butir keringatk mengalir dan bersatu dengan tubuh mbak maya. Nafas ku dan mbak maya masih belum teratur dan masih terus berpelukan. Lama kami berpelukan menunggu kekuatan pada tubuhku kembali.

Aku kemudian bangkit dari pelukan itu, kutatap mbak maya yang wajahnya masih terbungkus keringat. Matanya terpejam seakan-akan ingin segera terlelap dalam tidurnya. Aku kemudian menyeka keringat pada bagian keningnya lalu wajahnya. Ku turunkan kepalaku dan kucium bibir indahnya itu. Dedek arya masih dalam penguasaan liang senggamanya. Lama kami berciuman dan kulihat mbak maya tetap tidak membuka matanya, karena mungkin terlalu lelah. Aku kemudian bangkit, kuposisikan diriku diatas tubuh mbak maya kemudian aku kangkangkan pahaku tepat diatas dadanya.

“Mbak, arya pengen mbak bersihin ini?” ucapku sambil menyodorkan dedek arya ke mulutnya

“Hash hash hash hash hash hash… emmmmmm slurppp… emmmm…” tanpa berkata-kata dan sedikit membuka matanyambak maya kemudian mengulum batang penisku sebisanya dengan sisa tenaga yang tersisa dari tubuhnya. Setelah semuanya berakhir aku kemudian bangkit dari dada mbak maya, dan duduk sebentar di sebelahnya. Kupandangi mbak maya dengan wajah kemenangan lalu aku kecup bibir indahnya.

“Makasih ya mbak….” ucapku kepda mbak maya di telingan kanannya

“Hash… hash… hash… samahh –samahhh mashhhh….” ucap mbak maya sembari membuka matanya dan melihatku. Tergurat senyum indah dari bibirnya. Aku kemudian bangkit mengecup sebentar keningnya dan melangkah keluar dengan ketelanjanganku ini.

“Dadah mashhh hash hash arya ganteng, dadahh jugahhh kontol aryahhh gantenghhh heh hash hash…” ucapnya sambil membusungkan susunya dengan segenap kekuatanya

“Dadah mbak maya montok semok “ ucapku sambil meremas kedua susunya

Aku kemudian meninggalkan mbak maya di dalam kamar, terlihat kamar pak roto tertutup rapat dan hanya ada suara dengkuran saja. Kututup pintu dan ku melangkah mengambil dunhillku yang berada di tanah. Aku menuju kamar kututup pintu dan kurebahkan tubuhku. Sial besok sudah hari ke-14 dan aku harus pulang, ah parah padahal lagi enak-enaknya begitu bathinku berkata. Tapi mau apa lagi kalau harus lama disini aku juga tidak bisa karena aku masih punya misi dan aku kangen sama Ibu. Ibu apa kabarmu disana? Aku kemudian terlelap dalam tidur telanjangku hingga pagi meng-upper cut kepalaku.

Aku terbangun, kupakai pakaianku kulihat jam pada telepon cerdasku menunjukan pukul 08:00, gila aku kesiangan. Aku kemudian bangkit dan segera aku mandi, ketika aku membuka pintu mbak maya sudah berada di depanku membawa sarapan. Aku pun tertahan disana, kami berbincang-bincang dan kukatakan kepadanya kalau aku akan pulang hari ini karena badanku sudah mendingan karena mbak maya yang merawatnya. Mbak maya pun tersenyum dan bilang kepadaku agar nanti waktu pulang hati-hati. Mbak maya menemaniku sarapan dikatakannya bapak dan ibu akan pulang nanti pas jam setengah sebelas, jadi kalau mau pamit aku harus menunggunya. Setelah makan pagi aku kemudian beranjak ke kamar mandi.

Ketika berada dalam kamar mandi aku teringat jika hari ini aku akan pulang, dengan menggunakan handuk yang masih melilit pinggangku aku keluar. Aku mencari mbak maya di dalam rumah, kutemukan dia ada di dapur sedang mencuci piring. Aku kemudian menariknya dengan memaksa untuk mengikutiku. Kutarik menuju dalam kamar mandi.

“Eh eh eh…. mau ngapain mas?” ucapnya ketika sudah berada dalam kamar mandi

“Mau ini….” ucapkku yang dengan kasar langsung melolosi pakaian mbak maya. Mbak maya tampak tidak meolaknya

“Mbak maaf kalau lama-lama nanti bapak sama Ibu keburu pulang” ucapku yang disambut ciuman pada bibirku. Kami berciuman sebentar dan langsung aku posisikan mbak maya menungging dengan berpegangan pada pinggir bak mandi. Tanpa basa-basi aku langsung menusuk vagina mbak maya tentunya dengan bantuan tangan mbak maya dan sleeep…. ah hangat.

“Aiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhhh…… sakit mas pelan”

“maaf mbak, keburu bapak ibu pulang….” dan aku menggoyangnya dengan kasar

“Aduuuuuh…. mashhhh……”

Aku semakin cepat menggoyang karena waktuku tidak banyak, semakin cepat menggoyang untnuk meraih kenikmatan. Lama aku menggoyang tubuhnya, lama pula aku meremasi kedua susunya itu dalam posisi membungkuk dan memeluknya

“ouftthhhh…. terus mash…. kontolmuhhh…. bikin aku gilaaahh mashh… ahhh aku suka kontolhhh ouwhhhh mashhh aryaaahhhh…. ooooooohhhhhhh”

“bikin aku cepeth keluarhhhh…..” rintihnya

“Iya mbak, aku juga sudah kerasa ngilu mbak…” ucapku

“keluar mbak… aku keluaaaaaaaaaaaarrrr…..” jertku tertahan

“Aku juga massshhhh aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh” rintihnya

Dan dalam waktu dan tempo cepat akhirnya aku bobol dan muncrat ke dalam vagina mbak maya, kurasakan aliran cairan hangat kami. Kutarik tubuh mbak maya dan aku kemudian berpelukan kucium bibirnya. Dengan mengambil gayung dibelakang tubuh mbak maya, aku siram tubuh kami berdua dengan air. Mbak maya dengan telaten memandikan aku, setiap bagian tubuhku disabuninya tak lupa pada bagian dedek arya dikulumnya. Aku juga melakuakn hal yang sama setiap tubuhnya aku sabuni dan pada bagian memeknya aku jilati. Acara mandi selesai dan aku kembali kekamar begitu pula mbak maya. Aku berberes kamar dan kembali kedalam rumah lalu duduk sambil menunggu kedatangan pak roto. Mbak maya tampak menyuguhkan aku teh dan susunya yan menepel didadanya walau terbungkus, tapi bungkusnya terlalu ketat dan sempit.

“makasih mbak…” ucapku

“sama-sama mas arya ganteng…” jawab mbak maya

“ini tehnya boleh dicampur sama susu ndak mbak?” ucapku

“Boleh sich, tapi tuh yang dibawah sana… haloooo… nanti pasti minta masuk ke sarang hi hi hi” jawabnya

“Beneran nich…” ucapku

“Jangan mas ah… besok-besok saja, bisa patah tulangku mas….”

“semalam saja aku dah mau pingsan tapi enak hi hi hi…” ucapnya sedikit nakal, wajahnya masih tampak lelah tapi senyumannya seakan-akan tak pudar kemanisannya

“makanya jangan nggoda gitu he he he….” ucapku

Lama kami mengobrol yang nakal-nakal akhirnya kulihat pak roto dan bu roto baru saja masuk dalam rumah. Aku kemudian menyampaikan rasa terima kasihku dan kuserahkan bungkusan berisi uang sisa dari uang yang aku serahkan kepada penduduk desa banyu biru. Pak Roto sangat berterima kasih dengan bingkisan itu kemudian memelukku dengan erat. Setelah aku berpamitan dengan mereka aku menaiki REVIA disaat itu mbak maya menghampiriku.

“Mas, ini jangan jadi yang terakhir ya?” ucapnya berbisik kepadaku

“Ya kalau bisa ya mbak… makanya mbak maya main ke daerahku nemenin suaminya biar ketemu aku mbak” ucapku berbisik kepadanya

“Iya kapan-kapan, pokoknya yang terakhir, aku dibuatkan momongan ya mas hi hi hi” bisiknya kepadaku sembari meninggalkan aku dan berdiri di samping Pak dan Bu Roto.

“Heeeeh!????” ucapku, yang kemudian mbak manya memberi secarik kertas berisi nomor Hpnya. Aku kemudian mengantonginya dan kulepaskan tanganku ke atas sebagai salam perpisahan kepada mereka.

Aku pulang… aku pulang…. dalam perjalanan pulang pikiranku kembali kalut dari kakek nenek yang sudah tiada ditambah dengan perlakuan Ayah. Dalam perjalanan pulang yang menempuh waktu yang cukup lama itu akhirnya aku sampai pada daerah perkotaan tempat aku tinggal. Sebentar aku mampir ke sebuah warung nasi kucing didekat daerah rumahku yang mana menjadi langgananku ketika aku sedang sendiri di rumah. Perbicangan dengan mereka orang-orang yang aku kenal membuat rasa lelahku sedikit hilang. Disela-sela obrolan aku kemudian sms mbak maya, untuk memberitahukan ini adalah nomorku. Dan mbak maya langsung menanggapinya, cukup sebentar sms-an kami karena aku mengakhirinya dan kemudian pulang menuju rumah. Dan kutemukan rumah, sebuah rumah dimana aku tinggal. Ketika aku masuk kerumah…

“KAMU INI DARI MANA SAJA! PERGI TIDAK BILANG-BILANG! LIHAT DARI KEMARIN SAMPAI DIRUMAH IBU KAMU KHAWATIR!” bentak Ayahku, aku hanya tertunduk dan membisu. Tumben ayah mau menanyakan kabarku?? Tapi kenapa marah-marah, biasanya aku pergi tak pamit juga dia tidak memarahiku.

“JAWAB!” bentak ayahku kembali

“Arya, jalan-jalan Romo…” ucapku lirih

“DASAR BAJINGAN KAMU INI!” Bentaknya sembari meninggalkan aku

Aku kemudian melangkah masuk, tak kudapati Ibu. Aku kemudian naik keatas menuju kamarku. Kulihat Ibu memakai Kaos longgar mirip dengan baby doll dengan belahan dada yang tidak begitu kebawah, lenganya hanya tertutupi sedikit. Bagian bawah mengenakan celana ketat selutut. Ibu kemudian menghampiriku, rasanya aku sudah kangen sama Ibu dan Ibu sekaran sedang menyambutku.

PLAK….

Aku ditampar oleh Ibu dan aku tertunduk diam di hadapannya. Kudengar Ayah sedang berteriak-teriak tidak karuan dengan orang yang berada dalam telepon genggamnya dan dia melangkah menuju ke pekarangan rumah. Kurasakan Ibu masih berdiri di hadapanku dengan hawa kemarahan yang sangat besar. Aku masih terdiam dan tertunduk.

“Bu…. Maaf….” ucapku lirih

“Pergi terus saja, tidak usah pulang sekalian, sekalian saja main sama perempuan-perempuan diluar sana” ucapnya sedikit meninggi. Aku hanya terdiam dan tertunduk, aku kemudian mencoba menggenggam lengan tangan Ibu tapi ditepisnya.

“Urus diri kamu sendiri…” ucapnya sambil meninggalkan aku, Ibu kemudian keluar dan ketika Ibu sudah berada didepan pintu kamarku.

“Ibu tidak tahu selama ini aku mengalami apa, dan Ibu hanya marah karena tidak ada kabar dariku, apakah Ibu juga pernah menanyakan kabarku ketika Ibu berada dirumah tante ratna dan rumah kakek? Aku selalu tanya kabar Ibu tapi Ibu jarang membalasnya, Ibu kalau sudah punya yang baru bilang saja ke Arya, Arya terima!” ucapku kemudian menutup dan mengunci pintu

Dok Dok Dok Dok….

“Naaaak…. maafin Ibu naaaak…. buka pintunya…..” ucap Ibu di balik pintu

Aku masih kesal dengan sambutan Ibu kemudian berbaring dan merebahkan tubuh. Aku tidak menghiraukan ketuka pintu itu lagi, aku rasanya sudah benar-benar sangat kesal. Memang aku salah ketika aku pergi dan tidak mengabari Ibu dan Ayah, tapi kenapa mereka tidak menanyakan kabar aku ketika mereka sedang sibuk-sibuknya. Aku kemudian tertidur dalam mimpiku.

Tengah malam aku terbangun, kubuka buku-buku mata kuliahku dan aku belajar walaupun sedikit. Karena esok pagi adalah Ujian Akhir Semester aku mempelajari sesuai dengan apa yang harus aku pelari hingga mata ini tak mampu terbuka. Pagi hari aku terbangun, ketika aku keluar dari pintu kamar aku disambut oleh Ibu dengan senyumannya. Aku hanya melewati Ibu tanpa menggubrisnya, ibu mencoba menahan tapi tak kuhiraukan. Apakah dia tidak tahu betapa aku rindu kepadanya selama ini? Aktifitasku kembali seperti semula, makan pagi bersama keluarga dan berangkat menuju kampus. Ketika di dalam garasipun aku mengacuhkan Ibu tanpa memandangnya sedikitpun aku berangkat kuliah.

Selama 2 minggu aku manjalani Ujian Akhir semester dengan baik dan rasa kesal kepada Ibu. Tapi sebenarnya apa salah Ibu? Kenapa aku marah? Ya mungkin karena rasa kangenku selama ini kepada Ibu membuatku terasa sentimentil ketika harus mendapat perlakuan tidak menyenangkan ketika aku pulang. Padahal jika ditilik lebih dalam lagi sebenarnya kesalahan ada padaku. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak mau minta maaf sebelum Ibu yang meminta maaf, pokoknya harus seperti itu titik. Setelah dua minggu berlalu aku kemudian masih dalam posisi minggu santai menunggu yudisiumku (terima raport di kuliahan). Dan Yes! IP 3,75 aku dapatkan. Di sela-sela aku berada dikampus bersama teman-teman kampusku termasuk Rahman.

Kutakut mamaku marah… ku takut papaku marah… ku takut mereka marah karena terlambat sekolah… bunyi telepon dari BU DIAN! (percakapan di bawah ini yang bercetak miring adalah Bu Dian) aku langsung lari menjauhi teman-temanku dan bersembunyi di balik gedunng kuliah. Sambil menyalakan pasti tahulah apa rokokku, kuangkat telepon dari Bu Dian.

“Ya, halo selamat siang Bu”

“halooo… bagaimana kabarnya Ar?”

“Baik bu, bagaimana dengan bu dian?”

“Saya juga baik, Oh ya ini saya mau mengabari kalau KTI kita bakan dilombakan lagi ditingkat nasional karena kemarin kita masuk ke tiga besar, jadi ya mungkin kita harus bekerja ekstra keras lagi, bagaimana masih mau membantu?”

“Ohh… Siap Bu, sekarang Bu Dian dimana?”

“Sekarang saya masih di provinsi di luar pulau, jadi nanti kita saling email saja ya?”

“Oke bu siap, nanti di email saja bu, akan saya bantu kekurangan-kekuranganya dan saya mohon maaf tidak bisa membantu Bu Dian dalam presentasi”

“Iya, tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf Ar, nanti kirimi email kamu ya”

“Siap Ibu Dosenku…”

“Kamu itu apaan sich, ya sudah, dah dulu ya” tuuuuuut…

Bu Dian.. Oh Bu Dian andai saja kamu seumuran denganku pasti langsung aku tembak dirimu dengan M-16ku. Kuselesaikan hisapan-hisapan rokokku di belakang gedung, memang sich aga berbau pesing mau bagaimana lagi pada ujung gedung ada kamar mandi dan sekarang aku tepat di belakang gedung yang dibelakangku persis adalah kamar mandi. Kunikmati hisapan demi hisapan sambil duduk merenungkan masalah demi masalah yang menghujaniku. Kukirim emailku melalui BBM ke Bu Dian

To : Bu Dian
Email saya Bu, Arya_Ganteng@yuhuu.com
Dari :
Lebay….
Terima kasih ;)

Kubalas dengan ucapan sama-sama ke BBM bu Dian dan tak ada balasan lagi darinya. Tumben pakai emoticon senyum yang berkedip ada apa dengan Bu Dian?huoooooooo…… aku masih terduduk selonjor dengan bau pesing yan mengitari hidungku. Tiba-tiba aku mendengar suara perempuan yang aku kenal.

“Halo Om Nico, apa kabar? Ada apa ya om?”

“Tidak Om, dia sedang sama teman-temannya”

“Kurang tahu om, memangnya kenapa om?”

“APA?! Sebentar om akan saya cek terlebih dahulu karena I-Bankingnya saya tahu passwordnya, nanti saya telepon lagi om”

Ku dengar suara perempuan yang aku kenal di samping gedung tepat di depan kamar mandi, om nico? Apakah om nico-nya Rahman? sebenarnya aku penasaran dengan suara perempuan ini tapi siapa jika sekarang aku memunculkan diriku, bisa gasssssswat ini. Aku tetap menahan keinginanku untuk mengintip siapa wanita tersebut. Bayanganku terus merangkai setiap serpihan-serpihan wajah dalam ingatanku. Kudengar lagi suara perempuan itu lagi.

“Hal Om Nico”

“setelah saya cek ternyata tabungannya hanya berkisar di angka 20 juta om”

“Kelihatannya Rahman tidak memiliki tabungan selain yang ini om, karena yang saya tahu Cuma tabungan ini saja dan selama ini dia hanya mengambil uang lewat ATM yang saya pegang om”

“iya om siap, kalau nanti ada kabar lagi akan saya kabari”

Kudengar langkah menghilang dari tempat suara tadi. Segera aku mengintip ke arah Kamar mandi tadi untuk melihat siapa sebenarnya wanita tadi.

“AJENG! WHAT HELL IS GOING ON IN HERE!??? WHAT THE FUCK!” bathinku berteriak

Bersambung

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler