. Buku Harian Ari Part 6 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 6

0
37

Buku Harian Ari Part 6

Akhirnya Kudapatkan

Ari

Setelah beberapa hari lalu aku menyalurkan birahiku dengan seorang anak SMA bernama ulan yang kukenal di sebuah mall, hari ini aku jalan-jalan sama kekasihku ika ke sebuah wisata alam yang cukup jauh dari kota, hari ini ika mengenakan gamis abu-abu, rok panjang hitam dan dipadukan jilbab hijau. Setibanya di tempat wisata, aku lekas memarkirkan mobilku, kami lalu berjalan kearah yang jauh dari keramaian, karena aku ingin bercengkrama dengan ika. “Mas beneran sayang ika kan?” tanya ika memecah kesunyian. “Iya sayang” ucapku seraya menggenggam tangannya.

Suasana yang benar-benar sunyi, hanya ada suara hembusan angin, setiap angin berhembus, ika menahan roknya agar tidak terangkat, melihat roknya yang berkibar-kibar tertiup angin, muncul niatanku untuk sedikit nekat, kudaratkan telapak tanganku yang sedari tadi menggenggam tangannya tepat di pahanya. Seketika ia langsung merespon tindakanku dengan menggenggam erat tanganku dan berkata “Jangan mass”, namun aku bersikukuh untuk kembali meletakkan tanganku di pahanya, dan sesekali meremasnya. Terlihat pipi ika mulai merona karena malu. Saat kupastikan ia telah nyaman dengan sentuhanku pada paha miliknya, kucoba arahkan wajahku sedekat mungkin dengan wajahnya, kulihat ika memejamkan matanya seolah tau apa yang akan aku lakukan.

Mulai kukecup bibirnya, tidak ada balasan apapun, perlahan ia mulai terbuai akan permainan lidahku dan membalas dengan cukup agresif, ditengah panasnya ciuman kami, perlahan kuletakkan tanganku di lehernya dan perlahan turun ke toketnya, seketika ika melepaskan ciuman kami, ika bertanya “Mas serius kan dengan ika?”, “Iya ika, mas serius” ucapku seraya menatap dalam-dalam matanya, “Mas janji kan gak bakal tinggalin ika?” tanya ika, “Iya mas janji” jawabku seraya kembali memulai lagi ciuman mesra kami, aku tidak lagi ragu untuk mendaratkan tanganku di toket ika, perlahan kuremas lembut toketnya.

Sama sekali tidak ada penolakan darinya, terkadang kudengar ika mendesah disela-sela ciuman kami. Salah satu tanganku yang menganggur, kusibukkan dengan membuka resleting celanaku untuk mengeluarkan kontolku. Dan lagi-lagi, ika melepaskan ciuman kami seraya bertanya “Mas mau apa?” dengan nada kaget, “Mas janji akan nikahin kamu, mas akan tanggung jawab” jawabku karena itu adalah rencanaku dari awal yaitu ingin memiliki ika sepenuhnya. “Taa..tapi mass…” ucap ika ragu. Aku yang tak ingin mendengar jawaban penolakan darinya, langsung kembali menyosor bibirnya, dan tentu saja mendapat balasan yang kembali agresif darinya. Saat ciuman dan remasan yang kuberi semakin panas, kutuntun tangan ika untuk menggenggam kontolku, “Uhhmm” desisnya disela-sela ciuman kami. Ika melepaskan pagutan kami dan berkata “Panjang dan berurat mas, Ika jadi khawatir” seraya memperhatikan kontolku dengan seksama.

“Jangan khawatir sayang, tolong kocokin dong sayang” ucapku seraya meremasi toketnya lagi, ikapun memulai kocokannya, dan hal itu cukup mengejutkanku karena ika sangat telaten mengocok kontol bahkan sesekali ia meremasinya. Akupun tidak mau kalah darinya, kunaikkan dan kusingkapkan gamis abu-abu berikut jilbab yang ia kenakan, sama sekali tidak ada penolakan darinya. Saat ia yang sedang sibuk mengocok kontolku, aku sedikit tertegun kagum melihat kemolekan bentuk toket ika yang gak besar-besar amat namun mancung pentilnya, aku yang sudah dilanda nafsu hingga ke ubun-ubun pun langsung melumat dengan lahap toket ika kanan dan kiri bergantian. “Uhh mass pelan-pelan ahhh” desah ika yang masih asyik mengocok kontolku. Bukan hanya memainkan toketnya, perlahan salah satu tanganku mulai menaikkan rok hitam yang ia kenakan, namun ia seperti terkejut, dan menahan tanganku untuk tidak berbuat lebih jauh. “Mas jangan disini ahh..ika takut” ucap ika, akupun tersenyum dan bertanya “Kalau di mobil?”, kulihat ika mengangguk pelan lalu kami mulai merapikan diri dan beranjak menuju mobil.

Setibanya di mobil, aku mengajak ika untuk masuk ke kabin belakang, saat kami berdua telah berada di kabin belakang, kembali kumulai permainan panas kami, ika pasrah dengan semua perbuatanku, kini pakaian ika sudah sangat urak-urakan, baju, jilbab dan rok tersingkap. Kukeluarkan jurus andalanku, jemari kenikmatan. Kumainkan jemariku di bibir memek ika yang masih tertutup cd pink yang ia gunakan. “Ih mass gelii” desah ika seraya memegangi lenganku. Kurasakan menit demi menit, cd yang ia kenakan mulai lembab. Akupun mengarahkan ia untuk berbaring di jok belakang sama kondisinya ketika aku ‘mencicipi’ ulan beberapa hari lalu, saat ika telah berbaring, kulepaskan celana dan cd ku, dan mulai merangkak naik ke tubuhnya, karena kurasa foreplay kami tadi sudah cukup, kuarahkan kontolku untuk bersiap masuk ke memek ika yang ditumbuhi bulu hitam yang lebat.

Saat posisi yang kuinginkan sudah tepat, kuhentakkan sedikit pinggulku sehingga kini kontolku sudah masuk setengah ke memek ika, “Akhh” desah ika saat hentakan pinggulku tadi. “Mas panjang banget itunya” hanya itu yang ika ucapkan. Akupun mulai menyodokkan kontolku di memek ika, kulihat ika memejamkan matanya menikmati sodokan kontolku. Ada satu pertanyaan besar di kepalaku “Kok longgar ya?”. Namun aku enggan menanyakan hal itu padanya, aku takut merusak moodnya yang saat ini sudah rela kuentot.

“Ihh ahh mass itu mentok..ahh mentokk” desahnya lagi. Tak butuh waktu lama, “Akhh mass ika sampaiii” desahnya diikuti semburan cairan cintanya yang menghantam palkonku. Namun aku sama sekali tidak merasakan nikmat, karena himpitan memek yang kurasakan saat ini tidak sesempit milik bu rida dan ulan. Akupun berusaha untuk mengingat-ingat saat aku ngentotin ulan, agar aku bisa menikmati permainanku dengan ika saat ini, karena apabila aku hanya berusaha larut dalam permainan ika saat ini, kurasa aku takkan akan bisa menggapai klimaksku, karena memek ika yang sama sekali tidak sempit.

Dan aku kembali terkejut, ika hanya dalam waktu sekejap akan meraih orgasmenya yang kedua “Akhh akh mass perkasa banget ika sampai laggiiii” desahnya diikuti getaran hebat di seluruh tubuhnya. Saat gelombang orgasmenya usai, tampak ia mulai mengatur nafasnya dan berkata “Calon suami ika perkasa banget ih uhh uhh”, saat aku masih melamun, tiba-tiba kurasakan himpitan luar biasa di dalam memek ika dan hal itu membuatku tersadar dari lamunanku, “Hehe kaget ya mas? Sekarang ika yang puasin mas” ucapnya seraya mulai menggoyangkan pinggulnya. “Shit! Gila! Rapat gini…” aku membatin.

Dan mungkin karena sudah cukup lama aku menggenjot ika, dan kini ia berikan himpitan sekeras itu, terasa kontolku akan segera menyemburkan peju hangatnya. Sehingga akupun bermain sedikit beringas dan menyodok-nyodok memek ika dengan keras, “Akhh ahh udah mau sampai yaa mass” desah ika seraya menggerakkan pinggulnya mengimbangi sodokan kontolku. “Kamu hebat sayang, mas sampai!!!” ucapku seraya menghentakkan dalam-dalam kontolku di memek ika, “Croott…crott..croott” ada sekitar 4 semburan pejuku yang mengetuk pintu rahim ika. “Ahh yahh yahh kok di dalem masss” ucap ika panik berusaha melepaskan cengkraman tanganku pada pinggulnya.

Setelah kami mulai mengatur nafas kami, ika mencubit keras bahuku seraya berkata “Mas jahat banget, buang di dalem”, “Maaf sayang, memek kamu nikmat banget habisan” ucapku berbohong. “Kalau belum nikah, jangan kayak gitu lagi ya” ucap ika dengan wajah sebelnya. “Iya ya sayang” ucapku seraya mencubit pipinya. Kami lekas berberes dan saat di perjalanan pulang, ika bertanya “Mas beneran ya akan halalin ika, seperti boby dan bu rida?”, “Iya bener sayang..” ucapku, “Beruntung ya boby, bisa dapatin bu rida yang perawan, apa mas ndak malu dapetin ika yang udah hina ini?” tanya ika tiba-tiba. “Padahal keperawanan bu rida, aku yang ambil hihi” aku membatin, “Mas ndak malu kok sayang, jangan ngomong gitu ah” ucapku seraya memegang dagunya dan akhirnya kami kembali berciuman. Ika melepas pagutan kami seraya berkata “Ciuman mulu, liatin jalannya itu mas hehe”.

Rini

Birahiku yang sudah lama kupendam mulai tersalurkan melalui permainan yang dilakukan oleh mas boby, abang iparku sendiri. Rasa bersalah terus terngiang di dalam fikiran dan benakku, namun apa daya, aku tak mampu menahan birahiku ketika mas boby memaksakan kehendaknya. Dilihat dari cara ia memperlakukanku, sebenarnya dia bukan pria brengsek seperti yang kuketahui, ia memang benar menyayangi istrinya, namun karena sang istri sedang mengandung, ia tidak bisa menyalurkan birahinya pada istri karena ingin menjaga sang istri dan buah hatinya. Yaa perlahan aku mulai menerima kenyataan, bahwa aku akan terus menjadi selingan mas boby hingga akhirnya persalinan kak rida tiba.

“Dan beberapa hari ini tidak ada mas boby mencoba untuk menyentuhku, apa karena kak rida yang tidak ke kampus, maka bisa jadi mas boby takut jika dipergoki, ah sudahlah” lamunanku kemana-mana. Jika pun nanti mas boby menyentuhku, aku akan pasrah dan menikmati, dengan satu syarat adalah jangan sampai kak rida mengetahui perselingkuhan suaminya dengan adik iparnya. Mengingat inisial “lonte’ yang disematkan pada diriku, aku mulai menerima hal itu, karena aku benar-benar terbuai dengan keperkasaan mas boby. Lamunanku mulai mengawang-awang tinggi, dan kurasakan tubuhku mulai hangat pertanda birahiku mulai bangkit. “Ahh mass aku rindu” aku membatin seraya mulai meraba payudara dan memekku dari balik jilbab biru muda dan celana biru tua yang kugunakan. Semakin lama permainan tanganku semakin intens, “Uhh aku rindu” desahku.

 

Aku berusaha mencari perabotan di kamarku yang sekiranya bisa menuntaskan birahiku saat ini, namun tidak ada yang sesuai. Sehingga aku keluar menuju dapur, kulihat kak rida dan mas boby sedang duduk di sofa ruang keluarga, “Eh baru keluar adeknya kakak, gak ke kampus rin?” tanya kak rida mengagetkanku. “Eh eee..nggak kak, dosen pada libur kata temen rini” jawabku terbata-bata karena sedang dilanda birahi. “Oo iya sih, nih kakak aja kan libur” ucap kakakku sembari melanjutkan menonton sinetron favoritnya. Akupun mencari benda di dapur yang sekiranya bisa kugesekkan ke memekku. Kubuka kulkas kami, dan kulihat disana ada sebuah timun yang pendek namun cukup gemuk. Aku bingung bagaimana caranya aku membawa timun ini masuk ke kamarku.

Cukup lama aku berpikir, hingga akhirnya terlintas ide gila di kepalaku, Yaa aku menurunkan celana biruku berikut cd hitam yang kukenakan, dibalik bar dapur seperti kuharap kak rida dan mas boby tidak melihat apa yang kulakukan, lekas kumasukkan timun tersebut ke dalam bibir memekku, “Uhh” desahku dengan menggigit bibir merasakan timun yang sejuk itu mulai masuk ke dalam memekku, kumasukkan perlahan sehingga nantinya tidak akan menimbulkan gundukan yang bisa membuat kak rida ataupun mas boby curiga. Saat kurasa cukup dalam, lekas kupakai kembali cd dan celanaku. Tekanan cd dan celanaku membuat timun sejuk itu semakin kedalam, “Hhmm” desisku. Saat kumulai melangkah, timun sejuk itu seolah maju mundur di memekku, sensasi luar biasa apa ini. Saat aku hendak membuka pintu kamarku seketika kak rida bertanya “Lah masuk kamar lagi rin? Kamu mau cemilan apa? Mas boby mau beli makanan sebentar lagi nih”, “Iyaahh kak….aku minta beli min…minum ajaah kak” ucapku kesulitan karena merasakan kesejukan timun di dalam memekku, aku tak berani berbalik menghadap kak rida, karena takut ia curiga dengan apa yang berada di dalam celanaku.

“Oh oke deh rin” jawab kakakku. Akupun lekas masuk ke kamarku, setibanya di kamar karena birahi sudah di ubun-ubun aku tak memperdulikan lagi kamarku dikunci apa tidak, yang kutahu kini aku harus menuntaskan birahiku dengan timun sejuk ini. Akupun lekas melepaskan celana dan cdku. Akupun bercermin, terlihat timun itu mengacung di selangkanganku layaknya kontol mas boby yang siap menggempur memekku, aku tertatih berjalan menuju ranjangku, kubaringkan tubuhku dan mengangkangkan kedua kakiku. Kusingkapkan baju putih dan jilbab yang kukenakan hingga ke leher.

Kumainkan putingku dengan tanganku, sementara tanganku yang satunya mengeluar masukkan timun tadi yang sudah mulai basah karena cairan memekku. “Ahh sshh” desahku setiap timun tersebut keluar masuk di memekku. Tak berselang berapa menit, terdengar mas boby teriak dari luar “Rini!! Beli minuman apa rin?”, “Ahh Eeee minum yang isotonik dingin yaa mass!!” sahutku. “Okee! Mas pergi nih sekarang” ucap mas boby dan terdengar ia menyalakan mesin motornya. Disitu aku berpikir apakah kak rida ikut pergi atau tidak, tapi kalau gak pergipun ya sudahlah, intinya jangan sampai ketahuan olehnya bahwa aku kini sedang bermasturbasi.

“Ahhh ahh sshh” desahku diiringi gerakan keluar masuk timun yang sangat cepat karena aku rasakan diriku akan segera orgasme, dan benar saja, “Akkhhh shh! Ohhh sshh Ahhh” desahku melengking cukup keras diiringi semburan cairan cintaku. Belum sempat aku mengatur nafas, “Braakk!” terdengar pintu kamarku dibuka dengan cara di banting. “Kamu ngapain rin?!” pekik kakakku dengan berkacak pinggang di depan pintu. “Uhh ahh Eeeee..ini aku…anu kak” ucapku panik dengan nafas yang belum teratur. Kak rida mendekati ranjangku dan kembali berteriak

“Apa ini yang ada di anumu? Hah! Timun!”, “Timun kakak kamu ambil! Kamu kenapa jadi seperti ini rin?! Sejak kapan kamu tidak perawan rin!” omel kakakku dengan suara yang menggelegar. “Jangan-jangan dengan …!!” ucap kakakku dan seketika ia pingsan, tubuhnya rubuh ke ranjangku, aku yang panik langsung mengeluarkan timun dari memekku, aku menggerak-gerakkan tubuh kak rida, “Kak bangun kak…sadar kak..kakak!” pekikku. Aku takut apabila saat mas boby kembali, aku masih dalam kondisi tak bercelana, berusaha kugendong kak rida untuk berbaring lurus di ranjangku dan lekas ku rapikan kembali pakaianku, timun yang kupakai tadi, kubuang ke luar. “Kak..bangun kak..huuhuuhuu” ucapku tersedu-sedu melihat kak rida yang tak sadarkan diri.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler