. Buku Harian Ari Part 5 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 5

0
42

Buku Harian Ari Part 5

Dua Sisi Mata Koin

Rini

Beberapa hari lalu, dengan bejatnya mas boby ‘memperkosa’ diriku. Walaupun sesuai yang mas boby katakan bahwa aku memang sudah tidak perawan, namun aku tak terima dikata lonte. Penuntasan birahi yang dihiasi dengan paksaan sudah lama menjadi fantasi pribadiku, dan hal itu terjadi beberapa hari lalu. Aku memang sedih, marah dan kesal kenapa harus mas boby, abang iparku sendiri yang melakukan hal itu padaku. Aku merasa bersalah pada kakakku, namun aku kembali teringat akan perkataan mas boby mengenai keperawanan kak rida yang telah lama hilang sebelum mereka melangsungkan pernikahan. “Apa kak rida benar menjadi lon… eh maksudnya tidak perawan duluan? Apakah karena dipaksa atau bagaiamana?” berbagai pertanyaan sejenis terus berputar di pikiranku. Hingga akhirnya aku coba meluruskan pikiranku “Rini…kak rida yang kukenal sangat menjaga dirinya bahkan hingga kini ia telah menjadi istri tentu dia sangat menjaga harga dirinya, bukan seperti aku sang adik yang tidak mampu menjaga diri bahkan sampai digauli oleh suami kakakku sendiri”.

“Rini..rini ayo sarapan dek!” kak rida menyadarkan lamunan panjangku. “Iyaa sebentar kak!” sahutku. Akupun bergegas memakai baju lengan panjang berwarna hitam, rok panjang abu-abu dan selembar jilbab panjang berwarna merah favoritku. Saat aku sudah selesai dengan persiapanku untuk ke kampus, langsung aku menuju ruang makan, dan disana sudah ada kak rida dan mas boby yang menantiku untuk sama-sama sarapan. “Lama amat adekku berdandan, udah cantik kok dek hehe” canda kakakku. “Iiihh kakak nih usil” ucapku mencubit bahunya. “Kakak juga cantik pagi ini” ucapku memuji kak rida yang mengenakan gamis hitam dipadukan dengan jilbab merah sama denganku. Aku sejujurnya sedikit canggung dengan keberadaan mas boby di meja makan ini, namun aku berusaha senatural mungkin agar kak rida tidak mencurigaiku hal yang aneh-aneh.

“Kuliah apa pagi ini rin?” tanya mas boby dan seketika membuatku gugup. “Kul..kuliahnya pak anto mas, mas sendiri kuliah apa?” jawabku yang berusaha menguasai diri. “Oo pak anto, mas hari ini libur, dosen mas pergi main golf katanya” jelas mas boby yang langsung mendapat tanggapan anggukan dariku. “Enak ya kamu mas libur, aku kerja, tapi aku kerja berdua deh hehe” ucap kak rida nyeletuk. “Ya berdua, berdua sama ini” ucap kak rida yang melihat kami berdua bingung seraya mengelus perutnya. Dan akhirnya kami tertawa bersama. Melihat suasana yang harmonis seperti itu, aku kembali terngiang-ngiang dengan bayangan perbuatan hina yang mas boby lakukan padaku beberapa hari lalu, dan sesekali kutatap mas boby, “Luar biasa mas ini, ia mampu memainkan karakternya dengan apik” batinku melihat mas boby yang bisa menguasai situasi setelah melakukan perselingkuhan dengan rekannya dan adik iparnya sendiri.

 

Beberapa saat setelah kami selesai sarapan, kak rida pun berangkat ke kampus diantar oleh mas boby menggunakan sepeda motor andalannya. Saat aku hendak bersiap-siap berangkat, tiba-tiba aku menerima pesan dari teman sekelasku, ia memberitahukan bahwa hari ini pak anto berhalangan hadir karena ada penelitian yang harus ia selesaikan. “Yeay tidak kuliah!” teriakku dalam hati seraya berjoget layaknya anak kecil bahagia yang diberi permen. Akupun kembali masuk ke kamarku tanpa mengganti pakaianku. “Mau kemana ya…kalau di rumah aja suntuk kayaknya” ucapku dalam hati. “Assalamualaikum” terdengar salam dari depan pintu utama. “Wa’alaikumsalam” sahutku seraya lekas membuka pintu utama yang sempat kukunci. “Loh mas boby? Bukannya tadi ngantar kakak?” tanyaku heran.

“Iya, tadi dijalan jumpa dengan rekannya rida, dan rekannya menawarkan tumpangan untuk rida naik ke mobilnya karena melihat rida sedang mengandung” jelas mas boby. “Oo gitu, baiklah mas” ucapku seraya berjalan menuju dapur hendak mengisi air ke botol minumku. Saat aku sedang mengisi air, tiba-tiba sepasang tangan memeluk pinggulku. “Eh apa ini? Loh mas boby! Mau apa mas?” ucapku panik yang ternyata sepasang tangan itu adalah milik mas boby. “Mas mau seperti beberapa hari lalu rin” bisik mas boby di dekat telingaku. Kuletakkan botol minum dan berusaha menghindar dari dekapan mas boby, “Mas sudah, cukup sekali kemarin saja mas, ingat kak rida mas” ucapku berusaha menyadarkan mas boby yang telah dikuasai birahi. Ia mendekatiku dan meletakkan jarinya di bibirku “Sst…mas kan sudah bilang bahwa mas setia sama kakakmu, namun kini mas tidak bisa menyalurkan itu karena ia sedang mengandung” ucap mas boby, aku berpikir sejenak dan benar juga kata mas boby.

Tapi aku tak serta merta menerima perlakuannya kini, aku harus tetap menjaga citraku sebagai akhwat budiman yang ditanamkan oleh kakakku. Saat mas boby sudah sangat dekat denganku dan menyudutkanku ke meja dapur, aku berusaha menghindar dan berlari menuju kamarku. Namun karena ia adalah pria, maka tenaganya juga luar biasa. Ia menangkap dan menarik salah satu lenganku, lalu ia pepetkan tubuhku ke tembok kamarku. “Jangan menolak rin, mas tau kemarin kamu nikmatin, kalau kamu jujur saja, mas janji akan puasin kamu lagi” ucap mas boby yang wajahnya kini hanya beberapa senti saja dari wajahku. Akupun memalingkan wajahku berharap ia tidak berlaku kasar lagi padaku. Kurasakan salah satu tangannya yang menekan dadaku agar aku tetap menyender di tembok, mulai berusaha meremas lembut payudaraku, sementara tangan satunya mulai menaikkan rok abu-abuku sepinggang, ia berusaha sebisa mungkin untuk menurunkan cd hitam yang kukenakan, saat ia menyadari bahwa cd itu telah terjatuh ke lantai, jemarinya pun langsung bermain di bibir vaginaku, sentuhan demi sentuhan benar-benar memicu birahiku naik seketika, aku yang tak ingin terlihat menikmati, hanya bisa menggigit bibirku dan berusaha untuk tidak mendesah, aku enggan menatap matanya sehingga kupejamkan kedua mataku.

“Sudah deh, gak usah malu-malu gitu dengan masmu sendiri” ledek mas boby. Namun aku tetap kekeuh memejamkan mata dan menggigit bibirku. Kurasakan jemari mas boby semakin dalam masuk ke vaginaku, yang tadi hanya 2 jari, kini sudah ada 3 jari yang keluar masuk di vaginaku. Aku ngerasa akan segera menggapai puncak kenikmatan, namun karena sangking berpengalamannya mas boby, dengan seketika ia hentikan semua rangsangan yang ia berikan tadi. “Jangan orgasme dulu dong, kan belum dimasukin” ucap mas boby seraya menjauh dariku dan mulai melepaskan celana dan cd yang ia kenakan, terlihat penis yang sudah berhasil membuatku kelojotan beberapa hari lalu kini baru semi tegang di hadapanku. Ia menuntunku untuk berlutut dihadapan penisnya, “Pegang dan kocok punya mas” perintah mas boby. Aku pun dengan ragu mulai menggengam dan mengocok, ya lebih tepatnya mengurut sih, mengurut penis mas boby, kurasakan mulai timbul urat-urat kecil mengiringi pertambahan panjang dan kekerasan penis mas boby. “Sudah keras tu, sekarang jilat rin” perintah mas boby. “Gak mau ah mas, jijik..” tolakku. “Alah! Gak ada jijik jijik, kakakmu aja doyan kok” ucap mas boby seraya memegang kepalaku dan mendekatkan penisnya ke bibirku. Akupun sontak memalingkan wajahku karena mencium aroma penis mas boby.

“Eh nakal yaa..” ucap mas boby seraya menekan keras hidungku, sehingga mau tak mau aku membuka mulutku untuk menghirup udara segar, dan pada saat yang bersamaan, mas boby langsung memasukkan penisnya itu ke dalam mulutku, aku terasa ingin muntah namun kutahan, karena aku khawatir jika aku muntah bisa saja mas boby menggila. Perlahan akupun mulai melumat penisnya, terasa hangat dan keras. “Jangan kena gigi ya rin! Ngilu!” perintahnya. “Isap dan emut rin” perintahnya lagi. Akupun mulai mengikuti perintahnya, ternyata menghisap penis tidak semenjijikan yang aku pikirkan, bisa kurasakan penis yang berada di mulutku saat ini memiliki rasa yang nano-nano namun yang dominan adalah rasa asin. Kurasakan ada cairan yang keluar dari kepala penis mas boby, akupun langsung mengeluarkan penisnya, “Eh kenapa udahan!” tanya mas boby. “Itu cairan apa mas? Kencing ya?” ucapku panik. “Hahaha bukan kencing rina, itu cairan pelumas namanya, untuk memudahkan kontol mas keluar masuk di dalam memek” jelas mas boby dengan bahasa cabulnya. “Yaudah deh, mas udah panas, kamu juga sudah becek, sini baring di ranjangmu” ucap mas boby. Akupun lekas menuruti permintaannya, saat aku hendak membuka semua pakaianku, mas boby menahan dan berkata “Jangan dilepas, gitu aja, mas semakin birahi melihatmu berpakaian lengkap” ucap mas boby. Akupun berbaring dengan mengangkangkan kedua kakiku. “Eh udah ngangkang aja, pengen banget dientot nih? Haha” mas boby meledekku.

Kulihat ia naik ke ranjangku seraya mengocok penisnya, “Uhh” desahku saat merasakan kepala penis mas boby yang hangat menyentuh bibir vaginaku. Hanya dengan beberapa kali hentakan, kini penis mas boby sudah bersarang di dalam vaginaku, iapun mulai mengeluar masukkan penisnya. “Uhh aahh” desahku yang tidak lagi malu-malu. “Nikmat kontol mas rin?” tanya mas boby yang masih asik memaju mundurkan pinggulnya. Akupun hanya mengangguk, “Jawab dong, jangan ngangguk aja” ucapnya seraya mencubit pipiku. “Iyaahh sshh nikmat penis mas boby” ucapku dengan masih memejamkan mata. “Penis? Ini namanya kontol rin!” ucap mas boby seraya seketika menghentikan sodokannya. “Hhhmm…kon…eee…konto..” aku ragu-ragu menyebut kata cabul itu.”Kontol rin kontol!” ucap mas boby yang berusaha mengeluarkan penisnya dari vaginaku. “Iih iyaah mas iyaah kontol mas boby, masukin lagi ahh” ucapku panik merasakan penis, eh kontol mas boby sudah tidak berada di dalam vaginaku. “Masukin kemana rin? Tanya mas boby.

“Masukin ke vagina rini masss” ucapku berusaha mendekatkan bibir vaginaku ke kepala kontol mas boby. “Ini namanya memek rin” ucap mas boby seraya menampar-nampar bibir vaginaku dengan kepala kontolnya. “Ihh iiiyaah..masukin kontol mas ke memek riniii” ucapku yang tanpa ragu menyebutkan dua kata cabul itu. “Nah gitu dong” ucap mas boby yang kembali memasukkan kontolnya ke memekku dan mulai memompanya seperti sedia kala. Tak berselang beberapa menit, “Mass ohh sshh masss, rini mau nyampaiii” desahku diikuti semburan cairan cintaku. Namun lagi-lagi mas boby tak membiarkanku menikmati orgasme pertamaku, ia terus saja memompa kontolnya di dalam memekku. Dan dalam beberapa menit setelah orgasme pertama, aku kembali merasa akan meraih orgasme keduaku, dan sepertinya mas boby menyadari akan hal itu. Ia bukannya mempercepat genjotannya, namun justru ia memperlambat genjotannya. Kini adegan kami layaknya adegan erotis yang eksotis.

Kedua tangannya yang tadi dengan kokoh menjadi penopang tubuhnya, kini bergantian berusaha menyibakkan jilbab dan baju yang kukenakan, aku yang melihatnya kesulitanpun membantunya sedikit, dan tersungging senyum di bibirnya. Akupun membantu melepaskan bra hitam yang kugunakan, sehingga kini payudaraku bergoyang indah berirama dengan dengan sodokan kontol mas boby di dalam memekku. Tangan mas boby bergantian meremasin payudaraku kanan dan kiri bergantian, sodokan dan remasan yang mas boby berikan membuatku benar-benar tidak tahan lagi untuk menahan desiran gelombang orgasme, “Akkhh masss…mass perkasa bangeeett” desahku diiringi semburan cairan cintaku yang kedua.

Aku benar-benar lemas kali ini, aku hanya pasrah ketika perlahan mas boby mulai mempercepat sodokan kontolnya dan remasan tangannya pada payudaraku semakin ganas, kuduga ia akan segera orgasme. “Ah uh ah uh…mass bentar lagi sampai rin” desah mas boby. Seketika ia mengeluarkan kontolnya dan mengocok cepat, “Crooot croot crooot” ada sekitar 4 semburan sperma mas boby yang berterbangan indah dan mendarat tepat di pusar dan di payudaraku. Saat tetes terakhir sudah keluar dari kontolnya, mas boby pun merubuhkan tubuhnya kesampingku, kami bertatapan, kulihat mas boby benar-benar keletihan, ia memejamkan matanya dan tersungging senyum khasnya. Untuk menuntaskan permainan ini dengan indah, akupun menggenggam kontolnya dan sedikit mengurut, mas boby membuka matanya dan menatapku dalam, tatapannya berisi ungkapan terima kasih darinya.

Di situasi yang berbeda …

Rida

Bulan ini adalah bulan paling bahagia bagi diriku, tepat hari ini terhitung sudah 4 bulan aku menjadi istri sah boby, mahasiswa yang pernah mencabuliku. Dan pada bulan ini juga aku mendapat kabar bahagia, bahwa aku tengah mengandung anak pertama kami, karena tubuhku yang tidak terlalu gemuk, maka perutku hanya terlihat membuncit sedikit pada kehamilan bulan keempat ini, ya 4 bulan berdasar pada penuturan dokter yang memeriksaku beberapa minggu lalu. Walaupun aku sedang berbahagia, namun ada sedikit rasa duka di hatiku, karena otomatis hingga masa persalinan tiba, aku tidak bisa memuaskan suamiku boby, padahal itu adalah tanggung jawabku. Semenjak boby mengetahui aku tengah mengandung anak kami, ia yang khawatir akan keadaanku sama sekali tidak ingin berhubungan badan denganku, aku tau ia khawatir padaku, namun aku juga kasihan padanya yang rela menahan birahinya demi kesehatanku dan buah hati kami kelak.

Hari ini aku ke kampus seperti biasa, saat aku sedang dibonceng oleh boby menggunakan sepeda motornya, di perjalanan kami berjumpa dengan rekan dosenku, ia adalah bu Yati. Bu yati lalu menawarkan tumpangan padaku, karena dia khawatir akan kesehatan kandunganku. Dan akhirnya aku menumpang pada mobil bu yati sementara boby pulang ke rumah. Bu yati adalah seorang dosen muda yang sudah menikah terlebih dahulu dibandingkan aku dan boby. Umur bu yati mungkin hampir sama dengan boby.

Walaupun dengan umur yang semuda itu, ia sudah memiliki seorang anak yang masih berusia balita. Dalam perjalanan itupun akhirnya tanpa ragu aku mencurahkan hatiku tentang kondisi kehamilan bulan keempat ini dan mengatakan juga mengenai boby yang enggan menyentuhku karena tengah hamil. “Jadi kalian sudah lama gak gituan ya?” tanya bu yati.”Emm iya bu” jawabku. “Gini ya bu rida, sebenarnya tidak masalah jika ibu berhubungan badan dengan suami saat kehamilan awal apalagi baru trimester satu seperti saat ini, yang sangat diwanti-wanti itu ketika kehamilan ibu sudah masuk trimester tiga, dan tentu perlu perhatian ekstra pada masa itu” jelas bu yati. “Oo begitu ya bu, makasih banget loh sarannya” ucapku. “Ya sama-sama bu” sahut bu yati tersenyum.

Saat di kampus…

Aku kembali mengingat pesan yang bu yati sampaikan, “Baiklah, aku akan memuaskanmu pada malam ini mas” batinku bertekad untuk memuaskan boby pada malam ini. Saat aku berkemas hendak pulang ke rumah setelah seharian mengajar, salah satu rekan boby yaitu wiwi menghampiriku, “Bu, ibu dipanggil sama pak anto, katanya ada yang ingin dibicarakan” ucap wiwi. Akupun bergegas menuju ruang pak anto. “Tok tok” aku mengetuk pintu ruang kerja pak anto. “Iya masuk” sahut pak anto dari dalam. “Ada apa ya bapak manggil saya?” tanyaku. “Sila duduk dulu bu rida” ucap pak anto ramah. Dan akhirnya pembicaraan kami dimulai, ternyata ia membahas tentang kabar kehamilanku, dan hendak memberikan cuti spesial dan gaji tambahan untuk membantu persalinanku, aku sangat berterima kasih akan hal itu. Namun seketika arah pembicaraan jauh dari topik, dan membuatku bergidik ngeri. “Saya bersedia memberikan semua kelebihan itu, asalkan ibu siap membantu saya” ucap pak anto.

“Membantu apa pak?” tanyaku heran. “Ibu harus mau layani saya hari ini” ucap pak anto tanpa ragu. “Jangan lancang anda pak! Bapak tau bahwa saya sudah punya suami dan tengah mengandung!” ucapku sedikit berteriak mendengar permintaanya. Namun dengan santai pak anto berkata “Kalau ibu tidak mau, foto-foto ini bisa dengan mudah saya sebarkan” seraya melempar beberapa lembar foto padaku. Betapa terkejutnya aku ternyata itu adalah foto-foto proses pengambilan keperawananku yang dilakukan oleh ari beberapa waktu lalu. Seketika aku merinding dan seolah tunduk pada ancaman pak anto. “Diam-diam dosen akhwat ini main serong dengan mahasiswa ya” ucap pak anto yang semakin membuatku merinding. “Pak…tolong jangan disebarkan” ucapku memohon. “Iya bisa tidak saya sebarkan, tapi ibu harus layani saya hari ini” ucap pak anto.

“Ta..tapi pak, saya kan lagi hamil” ucapku berusaha mendapatkan rasa kasihan darinya. “Untuk kehamilan awal seperti itu masih bisa ngentot bu, istri saya juga gitu dulu” ucap pak anto mengucapkan kata cabulnya yang tentu saja mengagetkanku. Pak anto mulai mendekatiku, kini ia berada tepat dibelakangku yang masih duduk, tangannya menggapai dan meremas toketku yang masih tertutup jilbab merah, “Toket bu rida montok juga ya, oiya kan lagi hamil hehe” ucapnya yang masih asyik meremasi toketku. Aku harus menjaga diriku dengan tidak mendesah dan hanya menggigit bibir. Ia lalu menuntunku berdiri dan duduk diatas meja kerjanya, ia naikkan rok hitamku ke paha dan menurunkan cd putihku. “Hitam putih, kombinasi yang bagus hehe” canda pak anto. Aku hanya memalingkan muka dan berharap hal ini lekas selesai. Kini terpampang jelas memekku yang tidak ditumbuhi bulu di hadapan dosen pria bejat ini, iapun bergegas melepaskan celana kantornya berikut cd yang ia kenakan, aku terkejut ternyata kontol pak anto sangat kecil jika dibandingkan dengan milik boby ataupun ari, namun hal unik dari kontol pak anto adalah bentuknya yang gemuk dan berurat. Tanpa pemanasan apapun ia lekas memegang pahaku, dan berusaha untuk memasukkan kontolnya ke dalam memekku, “Uhh” tanpa sadar aku melenguh merasakan palkon pak anto masuk ke memekku.

Tak butuh waktu lama, kini semua kontolnya sudah bersarang di dalam memekku. Iapun mulai menyodok-nyodokkan kontolnya di dalam memekku. Aku masih bisa untuk tidak mendesah dan hanya menggigit bibir karena jujur kontol pak anto tidak memberikan pengaruh apa-apa pada diriku. Aku menggigit bibir justru bukan karena sodokan beliau melainkan karena rangsangan yang beliau berikan pada toketku. “Akkhh biarpun hamil memek ibu sempit giniii, akh saya sampai!!” desah pak anto yang diakhiri ia membenamkan semua kontol pendeknya ke dalam memekku, “Croot…croott” terasa dua semburan pejunya membasahi liang memekku. “Lah lah pak! Kok buang dalem…” ucapku panik dan berusaha mendorong tubuhnya. “Hehe maaf, lagian kan ibu udah hamil, gak mungkin toh hamil lagi karena peju saya” ucapnya. Kulihat kontolnya bukan melemas, tapi justru masih tegang sempurna, kagum aku melihat fenomena seperti itu.

“Saya tau ibu belum orgasme, makanya kontol saya belum lemas hehe” ucapnya bangga seraya kembali mendekatiku yang masih mengangkang diatas meja kerjanya. Iapun kembali memasukkan kontolnya dan menggenjot memekku lagi, entah kenapa, apa perasaanku saja, kini kontol pak anto terasa semakin menggemuk. Dan seolah membuat memekku sesak penuh terisi kontol pendeknya itu. Aku hanya melirik heran melihat selangkanganku,”Kagum bu ya kontol saya bisa gemuk? Haha” tanya pak anto bangga. “Kontol saya memang pendek, tapi gemuk, ibu pasti kelojotan dengan saya” lagi-lagi ia memuji dirinya sendiri.

“Ahhh” tanpa sengaja desahanku terlepas. “Udah lah bu, jangan ditahan” ucap pak anto yang mempercepat sodokannya. “Ahh luar biasa kedutan dan himpitan memekmu bu” desah pak anto yang menyadari bahwa aku akan segera orgasme. “Ahhhh uggghh” desahku diiringi semburan cairan cintaku, “Akhh luar biasa memek akhwat ini, saya keluar lagiii” desah pak anto diakhiri dengan ia kembali membenamkan kontolnya dalam-dalam di memekku. “Croott crooot crooot” ada sekitar 3 semburan pejunya yang kini bersatu padu dengan cairan cintaku di dalam sana. “Luar biasa memek bu rida, bisa sempit seperti itu” ucap pak anto yang menjauhi tubuhku. Terasa cairan birahi kami meluber keluar dari memekku dan membasahi rok hitamku. Akupun merebahkan sejenak tubuhku di meja kerja pak anto, menikmati sisa-sisa orgasmeku setelah lama tidak disentuh boby.

Di luar ruangan…tepatnya di spot terbaik untuk mengintip ke dalam ruangan pak anto. Wiwi menyaksikan istri sahabat terbaiknya dicabuli sang dosen bejat, wiwi merasakan perih teramat sangat di hatinya, ia terpaksa menerima permintaan untuk menjebak bu rida atas paksaan pak anto. Kalau saja tidak wiwi turuti, maka pak anto akan menyiksa wiwi bahkan akan menghamili wiwi. Wiwi sebenarnya bisa saja kabur dari pak anto, tapi sialnya pak anto punya semua aib wiwi.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler