. Buku Harian Ari Part 4 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 4

0
156

Buku Harian Ari Part 4

Harga Diri yang Ternoda

Rini

Aku yang masih shock dengan kenyataan bahwa abang iparku berselingkuh, berusaha bersikap tenang saat berada di dekatnya, terutama saat ada kakakku juga disana, aku tak ingin kesaksianku merusak rumah tangga mereka. Namun kekesalan dalam hati tetap ada. “Akhh!!” Teriakku dalam hati saat kondisi gundah gulana ini. Melihat wajahku yang kusut, “Kamu kenapa rin?” Tanya mas boby singkat. “Enngg…enggak kenapa-napa mas” jawabku terbata-bata. “Ah paling dia mumet dengan kuliahnya mas” ucap kakakku memotong. “Makasih kak” ucapku dalam hati.

Hari ini aku berkuliah setengah hari dan tentu saja pulang cepat lagi, setibanya aku dirumah, kulihat sepeda motor mas boby terparkir di teras, saat aku mengucap salam namun tidak kudengar sahutan di dalam sana, tak berapa lama “Wa’alaikumsalam” sahut mas boby dari kamarnya. “Ah mungkin tadi mas boby tidur” pikirku. Akupun langsung masuk ke kamarku, saat aku hendak mengganti pakaian, kembali terdengar suara deritan ranjang mas boby seperti beberapa hari lalu, dan saat kucek lagi-lagi pintu kamar tersebut tidak tertutup rapat, kubuka sedikit dan benar saja. Mas boby tengah menyetubuhi si guru lonte kemarin, ya bu ecy.

Kini posisi bu ecy menungging dan mas boby memegang erat pinggul bu ecy, aku benar-benar tidak tahan melihat perilaku menyimpang mereka, sehingga aku nekat memergoki mereka seperti yang ayahku lakukan dulu, kubanting keras pintu kamar mas boby seraya berteriak “Mas boby ngapain hah! Heh kamu itu guru apa lonte gangguin abang ipar saya!” terlihat wajah mereka berdua pucat pasi. Namun dengan tenang mas boby beranjak kearahku dengan kondisi penis yang masih tegang, “Rini..rini tenang dulu” ucap mas boby terbata-bata. “Gak bisa tenang rini, mas boby keterlaluan!” Teriakku tepat didepan wajahnya walaupun sesekali mataku melirik ke penisnya yang gagah itu.

Betapa terkejutnya aku ketika mas boby tiba-tiba memegang kedua tanganku dan memepetkan tubuhku ke tembok, “Kamu pikir, dengan kamu bentak, saya akan takut! Hah!” Ucap mas boby seraya semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuhku. “Sudah boby, jangan boby!” Ucap bu ecy berusaha melemahkan himpitan tubuh mas boby pada tubuhku. Namun aku kembali terkejut melihat mas boby yang sudah dikuasai amarah serta merta mendorong keras tubuh bu ecy sehingga beliau terlempar ke ranjang. Dalam kondisi terhimpit seperti ini, kurasakan kepala penisnya seperti menggesek vaginaku yang dilapisi rok gamis pink dan celana dalam krem. “Kamu jadinya mau apa?!” Tanya mas boby masih mendekapku. “Saya maunya mas setia sama kakak saya!” Jawabku lantang.

“Mas setia sama kakakmu, cuma saat ini mas butuh, kamu yang belum menikah tidak akan paham!” Ucap mas boby seraya melemahkan himpitannya dan mulai menjauhiku, ia kembali ke ranjang dan berkata “Maaf ya bu, saya tidak bermaksud..” belum selesai mas boby menyampaikan maksudnya, bu ecy menahan bibir mas boby dengan jarinya, “Ya dimaafkan nak” ucap bu ecy. “Heh! Sini kamu rini!” Bentak mas boby yang menyadarkan lamunanku. Aku sedikit ragu mendekatinya namun aku coba beranikan diriku seraya sesekali melirik ke penisnya yang mulai melemas. “Kamu mau uang berapa? Untuk tutup mulut” ucap mas boby. “Saya gak perlu uang dari mas, saya hanya mau lonte ini pergi dan tidak kembali lagi kesini!!” Ucapku membentak bu ecy.

“Jangan lancang mulutmu ya!” Ucap mas boby yang lagi-lagi memegang kedua tanganku, dan kini bukan hanya memegang erat tapi ia menarik tubuhku agar berbaring di ranjang itu. Aku meronta, “Lepaskan saya mas! Akh! Tolong!” Ucapku panik berteriak. “Bu plis tolong saya bu!” Ucapku mengiba pada bu ecy. Namun mungkin karena ia sudah tersinggung dengan ucapanku tadi, ia hanya bisa melihatku dengan iba tanpa berbuat apa-apa. Mas boby dengan paksa membuka baju dan rok gamisku, “Mas hentikan! Sadar mas!” Teriakku seraya menahan tangannya.”Diam kau adik tidak tahu diri!” ucap mas boby seraya masih terus saja berusaha mengoyak rok panjangku.

“Kreak!” koyak sudah rok panjangku, sehingga kini terpampang paha mulusku di hadapan sang wanita pelakor dan abang iparku. Mas boby tertegun sejenak melihat jengkal demi jengkal paha dan kakiku, aku yang harus tetap mempertahankan harga diri, lekas menutup selangkanganku dengan selimut dan bantal sebisaku. Melihat aku yang masih menolak, mas boby kembali beringas, ia berusaha menyingkirkan selimut dan bantal yang tadi kugunakan untuk menutupi tubuh bagian bawahku. “Karena kamu sudah masuk ke lubang buaya, maka izinkan lah buaya menikmati lubangmu!” ucap mas boby dengan perumpamaan yang sulit kucerna. “Aihh!” aku berteriak kaget saat jemari mas boby menyentuh bibir vaginaku yang masih tertutup cd kremku.

Jari-jarinya berusaha menusuk masuk sehingga membuat cd ku mulai lembab. Aku tahan sekuat tenaga untuk tidak mendesah dan berusaha tetap meronta. “Ah ngerepotin nih tangannya, bu bantu saya ya” ucap mas boby ke bu ecy yang langsung mendapat tanggapan dari beliau. Kini bu ecy yang mengunci tanganku untuk tidak memukul-mukul mas boby. “Kenapa ibu setega ini ke saya?!” teriakku. “Karena kamu sudah ngatain saya lonte, dan memang saya lonte! Wahai calon lonte!” ucap bu ecy lembut di telingaku.

 

Aku seperti tersambar petir mendengar pernyataan bu ecy. Ya aku sudah benar-benar masuk perangkap. “Mas sudahi mas” ucapku memelas. Bukannya mengiba, jari-jari mas boby malah semakin liar bermain di bibir vaginaku, sementara tangan satunya mulai menyibakkan jilbab abu-abuku dan baju gamisku keleher sehingga kini sepasang gunung kembarku terpampang indah di hadapannya. Betapa terkejutnya aku ketika mas boby tiba-tiba melepaskan bra yang kugunakan lalu dengan ganas melumat pentil payudaraku. “Eggh” desahku lirih menerima serangan bertubi-tubi yang mas boby berikan pada tubuhku. Saat aku sudah benar-benar lemas dan rontaanku berkurang, mas boby mulai melepaskan cd ku. “Sudah mas…sadar mas..saya adik iparmu” ucapku seraya menutupi vaginaku dengan salah satu tanganku yang telah bu ecy lepaskan. Mas boby sama sekali tidak menghiraukanku, ia menyingkirkan tanganku, saat aku melirik kearah selangkangan, terlihat penisnya yang telah mengacung sedang ia arahkan menuju bibir vaginaku.

“Uhh” desahku saat merasakan hangatnya kepala penis mas boby. Perlahan ia masukkan sedikit, “Mas jangan lakukan, maafin rini, rini janji gak buat lagi, hiks hiks” ucapku seraya menangis palsu. “Apa gak berlebihan ini bob?” ucap bu ecy. “Gak kok bu, dia sepantasnya mendapatkan ini, karena daritadi dia ngeliatin kontol saya terus, jangan bohong kamu rini!” bentak mas boby. Aku yang sangat kaget hanya bisa melotot menatapnya, “Akhh!” teriakku ketika tiba-tiba mas boby menghentakkan pinggulnya, “Akhh keluarin mass! Sudah!” ucapku berharap ia iba padaku. Terasa batang penis mas boby sudah masuk seperempat, batang yang begitu besar dibandingkan milik kekasihku dulu kini telah berada di liang vaginaku. “Gak usah sok kesakitan kamu, memek udah jebol gini” ucap mas boby dengan bahasa cabulnya menyadarkanku.

“Hah udah jebol nak?” tanya bu ecy kaget. “Iya bu, udah gak ada selaputnya, tapi memang sempit ini memeknya, benerkan udah pernah ngentot kamu?” tanya mas boby yang langsung membuatku ketakutan. “Sudah gak perlu kamu jawab! Memang udah lonte” ucap mas boby yang mulai memaju mundurkan penisnya. “Uhh saya bukan lonte mas” ucapku membela diri. “Asal kamu tau aja ya, waktu saya nikahin kakakmu itu, dia juga udah jebol” ucap mas boby yang sontak saja membuatku kaget lagi. “Tidak mungkin! Kak rida itu alim! Mas jangan sembarangan!” teriakku yang langsung direspon dengan pompaan keras penis mas boby pada vaginaku. ”Iya kakakmu itu lonte alim” ucap mas boby seraya semakin mempercepat gerakan pinggulnya. Aku benar-benar sama sekali tidak mempercayai bahwa kak rida sudah ternodai jauh sebelum ia menikah, ya kak rida yang sangat kuhormati. “Ahh” desahku saat merasakan kepala penis mas boby mengetuk pintu rahimku. “Baru ngerasain kontol sampai mentok ya? Kasian lonte tapi dapat kontol kecil mulu” ucap mas boby meledekku.

Tidak perlu waktu lama, “Akhh” desahku diiringi semburan cairan cintaku. “Bu ecy, dimana-mana lonte akhwat, awalnya bilang nolak ujung-ujung orgasme cepat hahaha” tawa mas boby diikuti bu ecy. “Bu ecy, siap-siap deh menyaksikan saya menghamili anak ini” ucap mas boby yang menyadarkanku dari kenikmatan fana yang baru saja kurasakan. “Hah! Mass mauhh hamilin sayaahh?” desahku. “Iya dong, mau kan jadi istri kedua mas?” ucap mas boby seraya berusaha mencumbu bibirku. “Gak mau..uhh saya gak mau dimadu dengan kakak” ucapku seraya memalingkan wajahku. “Hahahaha” terdengar mas boby dan bu ecy tertawa terbahak-bahak. Tak berselang beberapa lama, aku kembali merasakan akan meraih puncak orgasme keduaku, “Bu ecy siap-siap, memeknya sudah berkedut” perintah mas boby yang cukup membingungkanku, namun kuabaikan sejenak karena aku ingin menggapai orgasme keduaku.

“Akkhh mass” desah panjangku diiringi semburan cairan cintaku yang kedua. Mas boby melepaskan penisnya dan membiarkanku terbaring lemas, kupalingkan kepalaku seraya mengatur nafas, kulihat bu ecy tengah terlentang mengangkang sedang digenjot oleh mas boby, “Ayookk cepetan buu” ucap mas boby seperti dikejar setan. “Iyaahh entot terusss” desah bu ecy. “Ibu sampai naakk” desah bu ecy, terlihat tubuh beliau mengejang hebat, “Akkh saya jugaaa!” desah mas boby seraya menekan dalam-dalam penisnya di vagina bu ecy. “Ihh ihh ihh banyak banget sayang” teriak bu ecy. “Iyaahh…habis nyicipin lonte akhwat hehe” ucap mas boby yang kemudian merubuhkan tubuhnya diatas tubuh bu ecy. Kini kami bertiga telah menuntaskan nafsu birahi kami.

Tubuhku benar-benar keletihan setelah menggapai multi orgasme tadi, sayup-sayup kulihat mas boby seperti mengarahkan hpnya ke tubuhku yang masih terlentang hanya ditutupi jilbab, kurasakan tangan bu ecy mengelus kepalaku dan berusaha mencumbui bibirku. “Buu jangannn” ucapku lirih. Ia mengabaikanku dan memaksakan keinginannya mencumbuku, dan terjadilah percumbuan antara dua akhwat, dan seketika kudengar suara “Cekrek..cekrek” ternyata mas boby mengabadikan perbuatan menyimpang kami dengan hpnya. “Ini sebagai pegangan buat mas, kalau kamu macem-macem” ucap mas boby seraya mencubit payudaraku.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler