. Buku Harian Ari Part 17 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 17

0
162

Buku Harian Ari Part 17

Kembali Ke Kota

***************************************************************************************************************************************
Ari

Permainan ranjangku dan aliyah kemarin malam sangat panas dan cukup membuatku keletihan. Sehingga pagi ini aku bangun kesiangan, “Mas bangun mass…sarapan yuk” samar-samar kudengar suara aliyah yang lembut membangunkanku seraya mengelus pipiku. “Eh ha? Iya …” ucapku yang masih mengumpulkan nyawa untuk bangkit dari ranjangku. “Mas mandi dulu deh, busuk badannya hehe” ucap aliyah. Akupun bangkit dan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar kami dengan tanpa mengenakan pakaian. “Cepet masuk kamar mandi ah mas…nanti diintipin orang dari luar noh hehe” canda aliyah yang kusambut dengan memeluknya dari belakang.

“Ih peluk-peluk…masnya masih busuk….mandi sana” ucap aliyah melepaskan pelukanku. Setelah mandi, aku lekas ke ruang makan untuk sarapan bersama aliyah dan juga mertuaku. Saat kami menyantap sarapan, ibu mertuaku bertanya “Nduk…ndak mau kembali kuliah di tempat suamimu saja?”, “Eee liat nanti bu, belum tau” jawab aliyah. “Yaa kan kalau kuliah bareng, bisa dekat” ucap ibu mertuaku. “Iya ndak apa, kuliah bareng mas aja” ucapku seraya menggenggam tangannya. “Widih pengantin baru ya pa, pegang tangan kayak kita dulu” ledek ibu mertuaku sembari berbicara pada ayah mertuaku. Kamipun hanya tersenyum.

Ika

Kemarin adalah hari pernikahan mas ari, suamiku tercinta dengan seorang wanita bernama lili. Jujur aku penasaran dengan sosok wanita yang menjadi pendamping kedua suamiku tersebut. Aku harap ia adalah sosok yang bukannya bisa memberikan keturunan bagi mas ari, tapi juga bisa memberikan kepuasan biologis mas ari yang cenderung menggebu-gebu, karena jujur aku sering kewalahan saat beradegan ranjang bersamanya. Siang ini aku memutuskan untuk menelepon suamiku, “Halo mas…ciee pengantin baru” candaku. “Halo sayang….huuu istriku jangan cemburu gitu ah” ucapnya. “Nggak cemburu kok mas…jadi gimana malam pertamanya?” tanyaku. “Yaa paham lah kamu say, sampai lemas masnya” ucapnya. “Wah hebat dong istri kedua mas itu bisa buat masnya sampai lemas” ucapku kagum.

“Kedua istri mas hebat kok, apalagi kamu yang mau nerima masnya yang gak bermodal gini” ucapnya. “Aduh jadi malu…hehe. Mas, aku kembali ke kota duluan ya?” ucapku. “Lah kok duluan? Kenapa gak bareng aja? Biar jumpa sama istri kedua mas ntar” ucap mas ari sedikit terkejut dengan keputusanku. “Gak apa-apa mas, aku mau beresin rumah dulu nanti, kan nanti mas bawa istri baru, masa’ rumah berantakan?” ucapku. “Yah ndak gitu dong sayang, kamu kan bukan babunya mas, kamu itu istrinya mas” ucap mas ari yang sepertinya khawatir akan keputusanku. “Sudah ndak apa-apa mas, nikmatin aja dulu bulan madunya, aku mau ngurus beberapa berkas juga, kita cutinya kan sembarangan tuh” ucapku berdalih. “Oh iya ya….baiklah kalau itu alasanmu, hati-hati di jalan ya sayang….mas usahakan cepat kesana kok” ucap mas ari. “Ya mas, aku hati-hati ntar” ucapku seraya mengakhiri panggilan.

Keesokan harinya…

Aku mempersiapkan segala perlengkapan yang akan kubawa kembali ke kota dan saat aku pamit pada kedua orangtuaku, ibuku bertanya “Kamu ke kota dengan suamimu kan?”, “Tidak bu, ika naik bus kota saja” ucapku. “Loh kok gitu? Kalian marahan ya?” tanya ibuku bingung. “Tidak kok bu, ika cuma ndak mau aja ganggu kebahagiaan mas ari bersama istri keduanya” jelasku. Ibuku menatap haru dan berkata “Mama bangga padamu nak, dengan kondisimu saat ini, kamu rela dimadu dengan wanita lain demi membahagiakan suamimu sendiri, semoga kamu tegar dan selalu selamat ya nak”, “Ya makasih banyak mama” ucapku seraya memeluk erat ibuku.

Akupun diantar oleh papaku ke terminal bus terdekat, perjalanan selama 3 jam kulalui hanya dengan terlelap. “Sudah tiba terminal kota! Sudah tiba!” samar-samar kudengar teriakan kenek bus yang memberitahu penumpang bahwa bus sudah tiba di terminal kota. Akupun lekas membawa barang-barangku turun dari bus. Selanjutnya aku mencari bus umum yang melalui jalur menuju rumah kontrakan aku dan mas ari. Setibanya di rumah, aku langsung masuk dan meletakkan semua barang yang kubawa, bukannya membereskan semua perlengkapan yang kubawa, aku langsung saja membaringkan tubuhku di ranjang cinta kami. Kurang lebih 4 jam aku terlelap hingga saat kulihat keluar rumah ternyata sudah magrib. Akupun bergegas mandi dan mempersiapkan makan malam untukku.

Keesokan harinya…

Aku benar-benar rindu dengan nia, sudah beberapa waktu ini aku tidak berhubungan dengannya. Sehingga aku pun mencoba untuk menghubunginya melalui telepon genggamku, namun sama sekali tidak ada tanggapan. Akhirnya aku memutuskan untuk menuju ke rumah kontrakan kami dulu. Setibanya di halaman rumah kontrakan nia, “Tok…tok…tok” aku mengetuk pintu rumah kontrakan nia. “Sebentar…” terdengar suara nia dari dalam. “Wah ika…apa kabar sayang?” ucap ika seraya memelukku dengan erat. “Kabar baik say” ucapku yang masih ia dekap dengan erat. “Masuk…masuk” ucapnya kegirangan dengan kedatanganku. “Mas ari mana? Kok ndak ikut?” tanya nia heran.

“Dia ada di kampungnya” jawabku singkat. “Eh kok? Bentar aku buat minum dulu, ntar cerita yaa” ucap nia bergegas ke dapur. Setelah ia menyeduhkan minuman padaku, akupun mulai menceritakan semua hal yang terjadi mengenai rumah tanggaku pada nia, tanpa ragu aku cerita semua hal itu padanya karena di kota ini hanya ia satu-satunya orang yang paling kupercaya, walaupun kehidupan menyimpangnya pasti masih ia tekuni, aku tau nia adalah akhwat yang baik dan bisa menjaga rahasia.

“Ya ampun sayang…aku turut prihatin” ucap nia seraya kembali memelukku. “Makasih yaa sudah mau dengarin curhatanku” ucapku haru. “Yaa sama-sama…kamu tegar banget” puji nia. “Yaa karena aku sayang dengan mas ari” ucapku. “Oooh beruntung banget mas ari bisa punya istri kayak kamu yang tabah banget” ucap nia. “Iya nia, ngomong-ngomong kamu masih gituan?” tanyaku keluar dari topik. “Ngentot?” tanya nia. Aku mengangguk, “Iya masih…namun akhir-akhir ini mulai jarang” jelas nia.

“Emang biasanya gimana?” tanyaku. “Biasanya aku digarap sama pak karyo, pak isno dan pak marno sekaligus ka, namun akhir-akhir ini mereka jarang mengunjungiku” jelas nia. “Digarap tiga langsung? Kamu apa gak takut itumu longgar?” tanyaku. “Iya khawatir juga, tapi nikmat gimana dong hehe” ucap nia. “Kamu coba senam kegel deh, kayaknya bisa mempertahankan kekuatan otot memek, biar suamimu kelak ndak mempermasalahkan longgarnya itu” ucapku memberi saran. “Kegel? Pernah denger sih, kamu ngerti?” tanya nia.

“Ngerti dikit-dikit aja, selama di kampung kemarin aku latihan sama mamaku” ucapku. “Ooh ajarin nanti ya, jadi udah dicoba belum?” tanya nia. “Belum lah, kan mas ari masih di kampungnya” ucapku. “Oo tak kirain dah coba sama yang lain hehe” ledek nia. “Hush! Enak aja” ucapku seraya cemberut. “Yaa habisan kamu, perubahan topiknya malah ke yang ena-ena, udah lama gak dijamah ya? Hehe” ledek nia. “Ihh niaaaa!” pekikku seraya mencubitinya.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler