. Buku Harian Ari Part 12 | Kisah Malam

Buku Harian Ari Part 12

0
38

Buku Harian Ari Part 12

Hujan Deras

Ari

Dua minggu sudah ika melewati masa terburuknya, dimana ia harus merelakan kesempatan untuk memiliki keturunan dariku. Namun ika terlihat sangat tegar dengan kenyataan yang saat ini ia jalani. Harapanku mengenai hubungan yang akan kembali harmonis, tidak lah terwujud. Karena beberapa hari ini, aku dan ika beberapa kali bertengkar pasal keturunan. Ika selalu menolak ketika aku mengajak berhubungan badan, ia beralasan bahwa ia tak pantas lagi disebut istri karena tak bisa memberikan keturunan. Aku yang bingung harus bagaimana menghadapi ika yang keras kepala, akhirnya memutuskan untuk mengalah dan meminta izin padanya kembali ke kampung, karena aku ingin beristirahat dari pertengkaran yang tak berujung ini. “Baiklah kalau mas memang ingin pulang! Tapi antarkan dulu aku ke rumah orang tuaku! Aku juga ingin istirahat” ucap ika.

Akhirnya hari ini kami berkemas untuk sama-sama berangkat menggunakan mobilku, terlebih dahulu menuju kampung ika. Dari kota tempat tinggal kami saat ini, waktu tempuh menuju kampung ika hanya 3 jam sementara menuju kampungku adalah sekitar 5 jam. Sehingga kami berangkat pada sore hari, dengan harapan tidak ada macet di perjalanan.

3 jam berlalu…

Akhirnya kami tiba di kampung ika, orang tua ika memintaku untuk beristirahat satu malam disana karena saat itu jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, namun kupikir tanggung jika aku menginap terlebih dahulu disana, sehingga aku memutuskan untuk pamit dan melanjutkan kembali perjalanananku yang hanya bersisa 2 jam. Jalanan mulai sepi karena saat ini aku sudah memasuki jalan pedesaan bukan lah jalan umum, terlihat hanya 1 atau 2 rumah saja yang berada di tepi jalan. Cuaca yang mendung membuat suhu lingkungan terasa sejuk. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 8 malam, itu berarti aku sudah berjalan selama 1 jam dari kampungnya ika tadi. Tiba-tiba mobil yang kukendarai mengalami masalah, sehingga beberapa kali tersendat dan melambat.

“Waduh kenapa ini! Ayo jalan lah!” umpatku di dalam kabin. Mobilku yang terus melambat, namun aku terus berusaha menekan pedal gas agar dapat mencapai sebuah warung yang kulihat samar-samar ada di depanku, dan untungnya mobilku total berhenti tepat disamping warung yang kumaksud. Akupun keluar dari mobil dan membuka kap mesin mobilku, kulihat asap hitam membumbung keluar dari dalam mesin, “Uhuk uhuk” aku terbatuk karena menghirup asap tersebut. Kurasakan panas disekitar mesinku. “Mogok mobilnya mas?” terdengar suara wanita dari teras warung. “I..iya mbak uhuk” jawabku tanpa menoleh padanya. Akupun berusaha memperbaiki mobilku dengan pengetahuan seadanya, sudah sekitar 30 menitan aku mengotak atik mesin mobilku namun tak membuahkan hasil.

“Zraaasss” suara hujan deras yang tiba-tiba mengguyurku yang masih membungkuk di bawah kap mesin mobilku. “Oalah!” pekikku seraya menutup kap mesin mobilku. “berteduh dulu disini mas” ucap wanita yang menjaga warung tadi. Akupun berlari ke warung tersebut dengan baju dan celana yang basah kuyup, “Grrr” ucapku menggigil kedinginan. “Nih keringin badannya mas” ucap wanita penjaga warung tersebut yang ternyata adalah wanita yang terbilang masih muda seraya memberikan handuk padaku. “Oh iya makasih mbak” ucapku yang mulai mengeringkan badan dan pakaianku. “Walah basah semua lagi” ucapku. “Keringin di belakang sini aja mas, biar ndak kedinginan” ucap mbaknya.

Akupun mengikutinya ke sebuah ruangan kecil di bagian belakang warung miliknya. “Masnya ndak bawa baju lain kah?” tanya mbak itu. “Ada sih mbak, tapi di mobil” ucapku seraya mengeringkan badanku dengan handuk yang diberikan tadi. “Nih pakai payung saya mas, dan ambil bajunya biar gak masuk angin masnya” ucap mbak tersebut seraya memberikan sebuah payung. Akupun bergegas mengambil pakaianku yang berada di jok belakang mobilku. “Sila diganti pakaiannya dulu mas di belakang” ucap mbak tadi dengan ramah. Akupun menuju ruangan kecil tadi dan mulai menanggalkan satu persatu pakaianku, “Ah sial, daleman basah juga” umpatku dalam hati. Akhirnya kulepaskan semua pakaianku sehingga kini aku tak mengenakan sehelai benangpun. Aku lekas mengenakan celana pendek dan kaos abu-abuku yang kuambil tadi tanpa menggunakan dalaman.

“Mbak, saya numpang jemur pakaian saya disini yaa” ucapku. “Yaa silahkan mas, mari sini saya sudah buatkan teh hangat” ucapnya dari depan warung. Setibanya disana, kulihat mata mbaknya tertuju pada celana pendek yang kunenakan, karena aku tak mengenakan cd mungkin kontol panjangku cukup menarik perhatiannya. “Aduh saya jadi ngerepotin mbaknya saja” ucapku memecah tatapan kagumnya. “Eh iya..eh enggak kok mas, sila diseduh dulu, gak ada pakaian yang lebih tertutup ya mas? Sejuk banget loh ini” ucapnya salah tingkah.

“Ah gak apa-apa mbak, males bongkar tas lagi, makasih ya mbak tehnya” ucapku seraya menyeduh teh yang diberikan. “Masnya darimana?” tanya mbak itu. “Saya dari kota mbak, mau ke kampung, padahal tinggal 1 jam lagi, tapi malah mogok” ucapku. “Oooh…ya disini aja dulu mas sampai hujan reda”ucap mbak itu. “Oiya perkenalkan saya ari mbak” ucapku memulai perkenalan. “Oh iya, saya tini mas” ucap mbak tersebut yang ternyata bernama tini. “Tini mini? Hehe” candaku. “Huuu usil ya baru kenal ngeledekin orang” ucap mbak tini seraya cemberut. “Yah baper mbaknya, canda aja kok, biar gak tegang amat” ucapku.

“Hayooo apanya yang tegang ituuu” goda mbak tini. Aku males meladeni dan berkata “Disini tinggal dengan siapa mbak?” tanyaku. “Saya disini tinggal dengan anak saya mas” jawab mbak tini. “Oh anaknya, suaminya kemana mbak?” tanyaku. “Suami saya ke kota, mungkin satu kota dengan masnya” jawab mbak tini. “Oh, kerja ya mbak?” tanyaku. “Iya mas kerja disana, 2 bulan sekali pulang kesini” jawab mbak tini. “Kalau masnya sendiri?” tanya mbak tini. “saya dan istri tinggal dan kuliah di kota, tapi sekarang lagi ada masalah jadi kami memutuskan untuk pulang ke kampung masing-masing dulu” jelasku. “Masalah mas?” tanya mbak tini. Lalu tanpa ragu kuceritakan panjang lebar masalahku pada mbak tini walaupun kami baru berkenalan tapi setidaknya dia bisa dipercaya menurutku.

“Ohh begitu ya mas, semoga tabah ya mas” nasehat mbak tini. “Ya walaupun seperti itu, tapi setidaknya kalian tetap bersama dimanapun, ndak kayak saya yang jauh dengan suami” jelas mbak tini merendah. “Yaa kan suaminya pulang juga kan? Apa karena jarang dikelonin ya? Hehe canda mbak” candaku. “Haa iya itu, masnya paham lah hehe. Mas, mau minum jamu gak? Itu tehnya kan sudah habis” tanya mbak tini. “Jamu apa mbak?” tanyaku. “Jamu kuat mas, biar ntar gak ngantuk di perjalanan” ucap mbak tini. Aku yang kurang paham dunia perjamuanpun akhirnya mengiyakan, setelah selesai ia racik akupun menyeduhnya tanpa rasa curiga. “Sebentar ya mas, saya ke belakang dulu” ucap mbak tini.

Saat jamu yang kuseduh sudah habis tiga perempat, kurasakan gejolak birahi pada diriku, kurasakan kontolku yang sedari tadi anteng mulai berdenyut-denyut perlahan bangun dari tidur panjangnya. “Yah kok ngaceng, bangsat lah, udah gak pakai cd lagi” umpatku dalam hati. “Yakali coli di dalam mobil” aku membatin. “Udah habis mas jamunya?” tanya mbak tini yang mengagetkanku. “I..iya sudah tinggal dikit lagi” ucapku seraya menurunkan posisi duduk sehingga kontolku yang mulai tegang tertutup oleh meja warung, “Gimana? Makin seger kan setelah minum jamu?” ucap mbak tini.

Yang ketika kuperhatikan secara seksama ternyata ia mengganti pakaiannya menjadi mengenakan sebuah daster putih dengan belahan dada rendah, sehingga belahan dadanya terpampang jelas walaupun dengan penerangan yang sedikit remang-remang ini. “Mau tambah mas?” Tanya mbak tini seraya menundukkan tubuhnya, hingga kini kudapat melihat jelas belahan dadanya dan toket yang menggantung indah yang hanya ditutupi daster putihnya.

“Eee…enggak mbak, cukup ini” jawabku kikuk. “Oke deh, saya mau minum jamu juga deh, biar hangat” ucap mbak tini seraya berjalan ke meja tempat ia meracik jamu tadi. Saat jamu racikannya telah selesai, ia membawa cangkir yang berisi jamu tersebut ke meja yang sama denganku dan ia duduk tepat di depanku. “Gimana rasa jamu racikannya mbak?” tanya mbak tini seraya menyeruput jamu yang baru saja ia racik. “Pahit-pahit enak mbak, saya belum pernah minum jamu mbak soalnya” ucapku. “Ooo belum pernah, beruntung deh masnya nyicip jamu pertama kali dari ahlinya hehe” ucap mbak tini bangga.

Sesekali ia meletakkan toketnya yang menggantung tersebut ke meja warung. Kini kontolku sudah benar-benar tegang perkasa dibalik celana pendek yang kukenakan. Setiap ia seruput terlihat wajahnya sangat menikmati jamu yang ia racik, kini matanya menatap sayu kepadaku. “Masih kedinginan mas?” tanyanya dengan tatapan sayu. “Eee..udah agak hangat tubuh saya, makasih mbak” ucapku salah tingkah. “Yaa sama-sama mas” ucap mbak tini yang melangkah ke depan warungnya karena ada pelanggan yang barusan teriak “Beli…permisi…beli..”, “Beli apa bu?” tanya mbak tini. Betapa bohaynya pantat mbak tini melenggak lenggok mengambil barang yang hendak dibeli oleh ibu di luar sana. “Mobil baru mbak?” tanya ibu tersebut. “Ah ndak bu, mana sanggup saya beli, itu mogok” jawab mbak tini.

“Oh tak kirain mas samsul pulang bawa mobil” ucap ibu tersebut. Aku yang sudah beberapa minggu tak menyalurkan nafsu seksualku pada ika, dipicu sedikit oleh keseksian mbak tini, membuatku ingin nekat menjamahnya yang saat ini sedang berdiri menghadap ke luar warung. Aku berdiri dan mendekati tubuhnya dari belakang, “Eh masnya ngapain?” ucap mbak tini kaget saat aku menggesekkan kontolku yang masih terbungkus celana ke belahan pantatnya. “Egghh egghh” desahku merasakan palkonku menyelip di belahan pantat yang masih tertutup daster putihnya. “Mass sshh jangan mass” ucap mbak tini yang meliuk-liukkan tubuhnya seolah ingin lepas dari dekapanku, namun ia sama sekali tidak memberontak, justru gerakan meliuk-liukan tubuhnya tersebut memberikan kesempatan bagi palkonku untuk masuk ke celah paha mbak tini.

“Sshh besar banget mas” desah mbak tini ketika kontolku bergesek di celah pahanya. Tanganku yang sedari tadi hanya bertumpu di meja kasir warung agar mbak tini tidak lari dari posisinya kini mulai menyentuh pinggulnya dan perlahan naik ke toketnya. Saat kedua tanganku hendak hinggap ke bongkahan seksi toketnya, mbak tini memutar tubuhnya hingga kini kami berhadapan. “Mas ke ruang tadi ajah..takut diliat orang…bentar saya tutup warung dulu..” ucap mbak tini seraya mendorong tubuhku, akupun beranjak menuju ruang kecil tadi dan membuka semua pakaianku. Saat mbak tini masuk ke ruangan ia terperanjat melihat aku yang berdiri di depannya dengan kontol yang sudah mengacung keras.

“Eh mass…panjang banget mass” ucap mbak tini seraya mendekatiku dan berjongkok di depan kontolku, ia memperhatikan centi demi centi kontolku dan mulai menggenggam dengan tangannya. “Besar dan berurat mas, pasti istrinya mas puas banget” ucap mbak tini seraya mulai mengecup dan mengulum kontolku. “Ughh” desahku saat kontolku masuk ke mulut mbak tini. Ia sangat telaten menyepong kontolku, “Ehhmm hhmm” hanya itu yang terdengar dari mulutnya. Aku tidak mau membuatnya yang memuaskanku, aku lepaskan kontolku dari mulutnya dan meminta ia berdiri di hadapanku.

Kuturunkan tali daster putih miliknya satu persatu, hingga kini daster tersebut turun dan jatuh ke lantai, kini mbak tini sudah benar-benar terlanjang, dengan tubuhnya yang mungil ternyata toket miliknya masuk dalam kategori cukup besar, aku lalu menggiringnya untuk berbaring di sebuah dipan sederhana di dekat kami, saat ia telah berbaring aku merangkak naik keatas tubuhnya. Tangan mbak tini lantas mulai memegang dan meremas kontolku. “Ayoo mass entotin tini” godanya. Aku yang benar-benar telah diselimuti birahi ingin bermain sedikit dengannya seperti halnya aku memainkan para perempuan yang dulu pernah kutiduri.

Kudekatkan palkonku ke bibir memek mbak tini yang ditumbuhi bulu-bulu halus, kutampar-tampar bibir memeknya dengan palkonku. “Sshh masukin aja…” desah mbak tini. Namun tak kunjung kumasukkan, aku malah meremas dan mencupang toket mbak tini kanan dan kiri secara bergantian, “Toket mbak besar banget slurrrp” aku memuji toket mbak tini. “Eee eeggh mass..kontol mas juga besar banget” ucap mbak tini. “Besaran mana dengan kontol suami mbak?” tanyaku yang masih asik bermain dengan toketnya. “Besaran suami saya…” ucap mbak tini menghentikan ucapannya, akupun melirik pada matanya, ia tersenyum manja dan berkata “Tapi kontol mas lebih panjang dan berurat dibanding punya suami saya”. Mendengar pujiannya, akupun mulai memasukkan kontolku perlahan ke dalam memeknya.

“Sshh yang dalem mass” desah mbak tini. Akupun menghentakkan sedikit keras kontolku sehingga kini kontolku masuk secara penuh ke dalam memeknya. “Uhh sshh gila penuh bangett” desah mbak tini. Kurasakan pijatan dinding memek mbak tini luar biasa menekan kontolku, rasanya seperti memek perawan walaupun ia sudah beranak 1. “Rapet banget memekmu mbak ssh kayak perawan” ucapku. “Jadi masnya suka?” goda mbak tini. “Suka banget…” ucapku. “Yaudah…entotin saya sampai mas puas ahh” desah mbak tini saat aku mulai menyodok-nyodok kontolku di dalam memeknya. Toketnya yang berayun indah seirama dengan sodokan kontolku tak biarkan begitu saja, kuremas-remas dan sesekali kupilin puting toketnya, sehingga membuat mbak tini menggelinjang kenikmatan. “Akkhh masss entot remess teruss aahh” desahannya semakin liar. Saat aku hendak mengecup bibirnya, ia menolak dan berkata “Bibirku hanya untuk suamiku mas, tapi selain itu bisa mas pakai punya saya”.

Tak berselang beberapa lama, “Ah bangsat…kalah..aahh..masss aku sampaiii!” desah mbak tini diikuti semburan cairan cintanya yang begitu deras. Akupun menggunakan jurus andalanku ketika seorang wanita orgasme, bukannya melambatkan genjotan, aku justru menggenjot semakin keras dan dalam. “Ahhh uhh sshh masss nikmat kontolmu” desah mbak tini seraya mengatur nafasnya pasca orgasme pertama. Kedua tangannya merangkul leherku, kuminta ia merubah posisi menjadi menungging, iapun menuruti permintaanku. Aku pun kembali memasukkan kontolku dari belakang, “Ahh” desahnya ketika kontolku kembali bersarang di dalam memeknya. Aku sangat gemas dengan pantatnya yang bohay, sehingga tak lepas dari remasan serta tamparan dariku, “Akhh tampar pantatku mass…aku adalah budakmuuu” desah mbak tini, dan tak berselang beberapa menit setelah orgasme pertamanya “Ahh bangsat ih masnyaa…aku mau keluar lagi nihh ahh!” desahnya.

“Sshh tahan sebentar dong…saya hampir sampai jugaaa” desahku seraya mempercepat sodokan kontolku. “Iyaaahh cepetin akkhh” desah mbak tini menahan gelombang orgasmenya. “Mbak saya mau keluar…” desahku seraya membenamkan kontolku dalam-dalam…”Croott..croott..crooot” ada sekitar 4 semburan pejuku menyemprot di dalam memek mbak tini, “Akhh bangsat kau kontoll sshh” desah mbak tini diiringi semburan cairan cintanya yang kini berpadu dengan pejuku di dalam sana. Kami berdua akhirnya terkulai lemas, dengan kontolku yang masih berada di dalam memeknya. Aku memeluk tubuhnya dari belakang. “Uhh sshh mass perkasa banget” desah mbak tini seraya mengatur nafasnya. “Hehehe habisnya mbak seksi banget sih” ucapku. “Mass tadi habisin jamu yang saya buatin ya?” tanya mbak tini. “Iyaah mbak, kenapa?” tanyaku.

“Ooo pantes, ini kontol masnya masih tegang aja di dalam memekku” ucap mbak tini. “Bentar ya mass…aku capek banget loh” ucap mbak tini. “Kalau saya masukin ke bool mbaknya boleh?” tanyaku seraya mengeluarkan kontolku dari memeknya. Akupun menggesekkan palkonku ke bibir anusnya. “Boleh mass…tapi bentar yaahh akuu capek bangett..” ucap mbak tini. Selama ia mengatur nafas dan beristirahat, aku berusaha membangkitkan kembali birahinya dengan meremas dan memilin toketnya. “Doyan banget dengan toket saya mas?” tanya mbak tini. “Iyaa gede banget, eh tadi saya crot di dalem masalah gak?” tanyaku. “Gak kok, tenang aja masnya…” ucap mbak tini. Kulihat mbak tini sudah mulai berstamina, aku pun berusaha memasukkan kontolku ke anusnya.

“Akkhh pelan-pelan mass” desahnya saat palkonku mulai masuk ke anusnya. Akupun menuruti permintaannya. “Ihh mass jangan dalem banget…mual saya mass” ucap mbak tini seraya menahan pinggulku. “Ahhh boolnya rapet banget mbak….bangsat suami mbak kalau dia main sama lonte di kota…” ucapku seraya menyodokkan kontolku di dalam anus mbak tini. “Akkh mass nyeri tau..kontol mass panjang bangett” desah mbak tini. Aku hanya sanggup bertahan 4 menit menyodok anus mbak tini yang super rapat, “Akkh mbak saya mau keluarrr” desahku. Kulihat mbak tini menggerakkan pinggulnya mengiringi sodokanku, jemarikupun mulai mengocok-ngocok memek mbak tini.”Ahh jarinya nakal ihh..sshh” desah mbak tini.

“Akkh saya sampaiii” desahku, “Croott.croott…crooot” ada sekitar 3 semburan pejuku mengisi anus mbak tini. “Augghh banyak banget saya juga sampaiiii” desah mbak tini diiringi semburan cairan cintanya membasahi jemariku dan dipan tempat kami memacu birahi. “Akkhh makasih mas sudah mau meladeni nakalnya sayaahh” ucap mbak tini. Saat kurasakan kontolku mulai lemas, kutarik keluar kontolku dari anusnya, kulihat pejuku mengucur indah dari anus dan memeknya mbak tini.

Saat kami sudah kembali berpakaian dan kulihat di luar juga sudah reda, saat ini sudah menunjukkan pukul 1 malam. Akupun memutuskan untuk melanjutkan perbaikan mobilku, dan syukurnya mobilku dapat kembali menyala. “Makasih mbak jamu dan layanannya hehe” ucapku pada mbak tini yang berdiri di depan warungnya. “Yaa sama-sama mas, lain kali mampir yaahh” ucap mbak tini.

Setelah semuanya siap, akupun berangkat melanjutkan perjalananku.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler